Ekbis

Penjualan Turun, Semen Indonesia Tetap Optimistis

Bali (beritajatim.com) – Lesunya perekonomian nasional juga berimbas pada penjualan PT Semen Indonesia Group secara nasional yang turun sekitar 4,9 persen dan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) turun sekitar 2 persen. Meskipun terjadi penurunan permintaan semen, tetapi PT Semen Indonesia Group masih optimis akhir tahun nanti pihaknya bisa menutup buku tahunan dengan penjualan yang sama seperti tahun 2018 lalu.

“Kami masih optimistis dengan waktu yang tersisa di penghujung tahun ini, walaupun sulit untuk mengharapkan kenaikan penjualan karena terpengaruh tahun politik, tetapi minimal flat atau sama seperti tahun lalu,” ungkap Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Semen Indonesia, Sigit Wahono, saat bertemu wartawan di Bali.

Dikatakan, saat ini kapasitas terpasang pabrik milik Semen Indonesia Group di Indonesia sebesar 51 juta ton dan 2 juta ton di Vietnam. Sedangkan secara nasional kapasitas terpasang sebesar 113 juta ton sedangkan kebutuhan pasar nasional hanya 70 juta ton semen. Artinya Semen Indonesia Group mendominasi market share untuk semen secara nasional yakni sekitar 53 persen.

Menurut Sigit Wahono, penurunan ini membuat pasar menjadi over suplay sekitar 30 juta ton. Untuk meningkatkan utilitas pabrik semen mereka, PT Semen Indonesia Group pun mulai mengoptimalkan ekpor semen ke sejumlah negara di Asia seperti Bangladesh, India, Srilanka, Filipina, Timor Leste dan Maladewa. Namun upaya itu masih belum maksimal saat ini jumlah ekspor semen baru 2,9 juta ton.

“Kami masih mencari negara yang biaya logistik semennya yang paling ekonomis, sebab kami juga harus berhitung margin keuntungannya,” beber Sigit.

Meskipun penjualan menurun namun secara revenue Semen Indonesia masih tumbuh 3,1 persen dari 21,45 menjadi 28,12. Pertumbuhan terjadi karena hasil konsolidas PT SBI yang dulunya Holcim Indonesia, yang kini produknya berganti nama menjadi Dynamix.

“Saat ini kami punya 5 produk semen. Di Aceh kami punya Semen Andalas. Di Sumatera Barat ada Semen Padang, Semen Gresik di Tuban dan Rembang lalu ada Dynamix serta Semen Thang Long di Vietnam,” ujar Sigit.

Di tengah melambatnya konsumsi semen nasional, PT Semen Indonesia Group masih optimis di tahun 2020 mendatang penjualan semen akan kembali normal sesuai yang diprediksk yakni kebutuhannya naik 4 – 5 persen.

“Kami sangat optimis tahun depan konsumsi semen nasional akan lebih tinggi dibanding tahun ini, meskipun tahun 2018 lalu kami naik 7 persen, namun tahun depan naik sesuai pertumbuhan ekonomi saja itu sudah cukup menggembirakan,” tandasnya. [rea/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar