Ekbis

Penjualan Peti Mati Meningkat, Ario Surabaya Beri Diskon Bagi Warga Kurang Mampu

Jasa penjualan peti mati Ario di kawasan Raya Dinoyo, Surabaya pun kebanjiran order

Surabaya (beritajatim.com) – Bisnis peti mati tengah laris manis di tengah pandemi yang terjadi akibat covid 19 yang meningkat di Indonesia, salah satunya Surabaya. Bahkan salah satu tempat penjualan peti mati Ario di kawasan Raya Dinoyo, Surabaya pun kebanjiran order sejak puncak pandemi terjadi Juni 2021 lalu.

Mattius Karijanto, Senior Director Ario mengatakan jika puncak pesanan peti mati meningkat saat gelombang kedua pandemi Juni lalu. Dalam sehari bisa mencapi belasan pesanan peti mati jika dikalkulasi setiap satu minggu pihaknya selalu mengirimkan 60 peti mati.

“Kita tahun lalu tidak terasa lonjakannya baru tahun ini kita sampai over load bukan hanya dari permintaan pemerintah dan rumah sakit dari keluarga yang langsung datang ke Ario untuk membeli langsung meski terkadang mereka sering kehabisan yang sesuai dengan permintaan mereka,” ungkap Mattius, Rabu (4/8/2021).

Lebih lanjut dikatakan Mattius, permintaan meningkat akan pasokan peti mati ini pun berdampak pada kuwalahan para karyawannya, bahkan ia mengkaui sempat menolak beberapa permintaan pemesanan peti mati.

Bahkan sejak pandemi, manajemen Ario tidak menaikkan penjualan peti mati mereka tetap normal harga penjualan peti mati mulai dari tiga jutaan hingga puluhan juta rupiah. Bahkan jika ada keluarga yang tidak mampu ia kerap kali mendiskon peti mati yang dibutuhkan asalkan stok peti mati masih ada.

“Kami sempat menolak pesanan beberapa kali tapi kita arahkan ke tempat lain yang sesuai dengan kemauannya. Karena yang penting prinsipnya bukan mencari eksempatan tapi membantu mereka secara kemanusiaan bisa kita tolong lebih ke arah sana,” imbuhnya.

Jasa penjualan peti mati Ario di kawasan Raya Dinoyo, Surabaya pun kebanjiran order

Namun dibalik meningkatnya permintaan peti mati dan kremasi di Ario, menjadi pekerja di garda depan kebutuhan jenazah di tengah pandemi para karyawan Ario hampir sebagian pun terdampak badai penularan covid 19 di pandemi kedua awal Juli lalu.

Bahkan harus memutar otak bagaimana tetap melayani permintaan meski harus menghadapi kenyataan 50 persen dari karyawan tertular. Dan harus membagi jadwal pelayanan antara mengurusi pemakaman, peti mati hingga di rumah duka.

“sampai staf kita kena kalau saya total hampir 50 peren kena termasuk manajemen . Akhirnya antisipasi mau ngga mau mengurangi servis kita misal kalau hari biasa 6 orang di adijasa satu hari ditarik begotu tugas selesai kembali kantor. Di roling tapi roling ini memangkas hal lain karena keterbatasan karyawan,”tutupnya. [way/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar