Ekbis

Pengusaha Depo Petikemas Hampir Gulung Tikar

Surabaya (beritajatim.com) – Masa pandemi membuat pengusaha petikemas TPS (Tempat Penimbunan Sementara) lini 2 babak belur. Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki) mengaku setiap bulan mengalami kerugian hingga Rp 400 juta. Apa penyebabnya?.

Menurut Agung Kresno Sarwono, Ketua Asdeki DPW Jatim, sejak Covid-19 mewabah pertengahan Maret lalu hingga pemerintah menetapkan pembatasan bagi ekspor maupun impor dari luar negeri.

Maka arus petikemas di terminal petikemas internasional di Tanjung Perak merosot tajam. Dampaknya para pengusaha depo petikemas di lini 2 pun harus mengencangkan ikat pinggang karena petikemas yang dititipkan kepada mereka menurun drastis.

“Saat itu 3 bulan lalu kami pahami, karena ini wabah dunia. Dan kami masih mampu bertahan dengan cashflow yang kami miliki,” ungkap Agung yang juga Direktur Utama PT Karana Panorama Logistik (KPL), Jumat (4/9/2020).

Dikatakan, Saat new normal diberlakukan dan shipping internasional dibuka kembali dengan budaya kerja new normal. Pemerintah mengeluarkan aturan baru yakni Surat Edaran No 37 Tahun 2020 yang menyebutkan karena alasan Covid-19 maka penumpukan barang di lapangan tumpuk Lini 1 melebihi batas waktu diperbolehkan selama kepadatan petikemas dilapangan tumpuk lini 1 dibawah 65 persen.

“Jelas hingga perdagangan internasional kembali pulih, lapangan di Lini 1 tidak akan padat. Artinya depo di lini 2 tidak akan mendapatkan kue pelayanan petikemas. Dan surat itu juga tidak disebutkan batas waktunya,” papar Agung.

Dampaknya kini seluruh Depo lini 2 hanya mendapatkan sedikit sekali layanan pekerjaan penitipan petikemas. Bahkan yang sebulannya mengelola 3 ribu petikemas, kini tinggal 1.000.

“Kami meminta pemerintah meninjau surat edarannya. Sebab sudah 6 bulan kami tidak mendapatkan omset yang diharapkan. Dan beberapa anggota kami bersiap-siap gulung tikar. Bahkan ada yang sudah mengurangi karyawannya, karena pelayanan petikemas di lini 2 sudah sangat minim. Dan kini lapangan tumpuk kami pun kosong, sudah seperti lapangan bola,” tandas Agung. [rea/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar