Iklan Banner Sukun
Ekbis

Penguatan Literasi, Disperka Kabupaten Mojokerto Gelar Cooking Class Gunakan Produk Fiber Cream

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menghadiri coocking class yang digelar Disperka Kabupaten Mojokerto. [Foto : ist]

Mojokerto (beritajatim.com) – Penguatan literasi masyarakat merupakan salah satu program prioritas nasional yang tercantum dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020-2024 guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur.

Guna mendukung program nasional tersebut, Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperka) Kabupaten Mojokerto menggelar cooking class bersama PT Lautan Natural Krimerindo. Cooking class menggunakan produk Fiber Cream.

Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati menyampaikan, kegiatan penguatan literasi masyarakat tidak hanya dengan cara membaca saja. Penguatan literasi bisa juga dengan cara praktikum secara langsung. “Di dalam makanan yang kita buat itu ada bahan-bahan khusus yang bisa memberikan nilai plus,” ungkapnya.

Bahan-bahan khusus yang bisa memberikan nilai plus tersebut bisa dengan menggantikan santan, susu dan sejenisnya dengan produk Fiber Cream. Menurut Bupati perempuan pertama di Kota Mojokerto tersebut, bahan-bahan tersebut dinilai lebih ramah terhadap tubuh.

Dalam cooking class yang digelar di gedung literasi Disperka Kabupaten Mojokerto, peserta diajak untuk belajar membuat getuk dan thai tea. Dimana dalam kedua produk makanan olahan tersebut menambahkan produk Fiber Cream.

“Kalau pada pembuatan getuk, ketika ditambah dengan Fiber Cream ini bisa menambah kandungan serat yang lebih banyak. Sementara untuk pembuatan thai tea, untuk mengganti krimer atau susu agar lebih ramah di tubuh,” tuturnya.

Bupati menambahkan, pemanfaatan produk lokal yang melimpah seperti ketela pohon atau dalam bahasa Jawa kaspe menjadi produk yang bernilai tinggi. Sehingga dapat menjadi sebuah produk unggulan dari daerah atau oleh-oleh getuk kekinian.

“Kaspe yang melimpah dengan harga yang murah di pasaran bisa menjadi peluang usaha yan bagus bagi bapak ibu peserta. Dengan menggabungkan thai tea minuman kekinian menjadikan peluang usaha yang sangat bagus untuk menjadikan peluang usaha,” ujarnya.

Sementara terkait keberadaan perpustakaan, lanjut Bupati, juga diharapkan dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat agar memiliki kesadaran dan kemandirian dalam bidang informasi dan media pendidikan. Khususnya bagi masyarakat yang tidak mendapatkan kesempatan pendidikan formal.

“Dengan beragam informasi yang dimiliki perpustakaan juga menjadi hiburan dan media rekreasi bagi masyarakat. Perpustakaan dalam hal ini menjadi lembaga yang strategis untuk peningkatan literasi masyarakat guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses informasi sesuai dengan konteks kebutuhannya masing-masing,” tandasnya.

Bupati menambahkan, pendekatan inklusif memandang perpustakaan merupakan sub sistem sosial dalam sistem kemasyarakatan. Untuk itu, perpustakaan harus dirancang agar memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi di masyarakat.

“Melalui pendekatan inklusif perpustakaan umum mampu menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh solusi, dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan,” tegasnya.

Orang nomor satu di lingkup Pemkab Mojokerto ini pun menyebut, tujuan dari program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah terciptanya masyarakat sejahtera melalui transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Sehingga bersama perpustakaan untuk hidup lebih baik. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar