Ekbis

Pengerajin Batik Tulis Celaket Asal Malang Kini Bernasib Malang

Batik Tulis Celaket (BTC) Kota Malang.

Malang (beritajatim.com) – Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO. Pada tahun ini, hari batik diperingati di tengah pandemi Covid-19.

Pemilik Batik Tulis Celaket (BTC), Kota Malang, Hanan Abdul Djalil mengatakan, sejak Januari 2020 hingga Oktober 2020 penjualan batik terus menurun. Bakal mencatatkan 0 persen penjualan dalam 7 bulan terakhir. Penyebab utamanya adalah lesunya sektor pariwisata. Sementara, batik merupakan bisnis turunan yang bergantung pada pariwisata. Karena batik identik dengan oleh-oleh khas suatu daerah.

“Batik ini kan turunan, kalau wisatanya tutup dan sepi tentu berimbas. Karena batik itu biasanya buat oleh-oleh. Angka penjualannya, Januari hinhga Maret 0,1 persen saja penjualan. Di 7 bulan terakhir 0 persen penjualannya,” papar Hanan Jalil, Jumat, (2/10/2020).

Hanan mengatakan, dalam situasi pandemi Covid-19 tidak ada yang bisa disalahkan. Namun, sebagai pengerajin dia berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bijak. Diantaranya, menginstruksikan pemerintah daerah dengan membelanjakan APBD untuk membeli produksi pengerajin atau produsen lokal.

Seperti Batik Tulis Celaket, Kota Malang ini misalnya, meski terdampak pandemi Covid-19. Mereka tetap harus menghidupi 20 karyawan mereka. Karyawan tetap dipekerjakan dengan memproduksi batik setiap hari meski tidak ada penjualan.

“Memang tidak ada yang bisa disalahkan, tapi kalau bisa pemerintah itu punya kebijakan belanja daerah itu harus dibelanjakan ke daerah. Untuk Kota Malang, misalkan disini ada 5 produsen batik ya beli saja disitu agar ekonomi bergerak. Karena produsen dan toko itu punya karyawan yang dinantikan oleh keluarganya untuk pulang membawa gaji. Apalagi karyawan kita 20 semuanya tetangga sekitar,” ujar Hanan Jalil.

Hanan Jalil mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 yang dibutuhkan pengerajin batik bukanlah bantuan sosial namun bantuan pinjaman modal usaha. Skemanya dengan beberapa stimulus seperti cicilan ringan atau dalam 6 bulan diawal ada relaksasi cicilan dengan tidak membayar terlebih dahulu. Pemerintah boleh memberikan, dengan syarat pengerajin yang diberi pinjaman dilarang memecat karyawan.

“Kalau saya yang dibutuhkan bukan Bansos, tapi yang diharapkan bantuan pinjaman baru. Kita ini pinjam tidak minta, tapi dengan stimulus misalkan cicilan ringan, dan ada tempo waktu 6 bulan tidak bayar dulu misalnya. Kemudian diberi pinjaman dengan janji jangan pecat karyawan,” kata Hanan Jalil. (Luc)





Apa Reaksi Anda?

Komentar