Ekbis

Pencairan Klaim Lama, Petani di Ponorogo Enggan Asuransikan Padi

Tanaman padi dianjurkan untuk diikutkan dalam AUPT. (foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Dari 34.801 hektare lahan pertanian di Ponorogo, tahun lalu hanya ada 380 hektare lahan yang diasuransikan. Nampaknya, para petani kurang tertarik dengan asuransi usaha tani padi (AUTP) yang selama ini gencar disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Padahal, klaim asuransi itu nantinya akan sangat membatu jika tanaman padi para petani mengalami gagal panen atau puso.

“Kami terus sosialisasikan AUPT ini, tahun lalu dari target 500 hektare, sawah milik petani yang ikut asuransi hanya 380 hekty atau sekitar 76 persen dari target,” kata Kabid tanaman pangan holtikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, Medi Susanto, Sabtu (6/3/2021).

Medi menyebut jika padi itu mengalami gagal panen atau puso dan diasuransikan, maka petani dapat klaim pencairan sebanyak Rp 6 juta per hektare. Dengan persyaratan tertentu, yakni padi yang mengalami kerusakan harus lebih atau sama dengan 75 persen.

“Jadi klaim bisa dicairkan jika kerusakan tanaman padi itu 75 persen. Petani nantinya akan mendapatkan uang Rp6 juta per hektare,” ungkap Medi.

Banyaknya petani yang tidak tertarik dengan adanya AUPT ini, menurut Medi, disebabkan dari lamanya proses pencairan asuransi tersebut. Dia menyebut setelah puso dan petani menanam lagi hingga panen, klaim itu juga belum diberikan.

Padahal syarat-syarat yang diperlukan juga sudah dipenuhi oleh petani sendiri atau Dispertahankan setempat. Selain itu, asuransi itu sebagai satu-satunya cara untuk membantu petani.

“Kami juga selalu berkoordinasi dengan Jasindo (Lembaga asuransi untuk AUPT), supaya klaim-klaim yang dikirimkan itu cepat tertangani. Sehingga nantinya bisa merangsang petani untuk mengasuransikan tanaman padinya,” pungkasnya. [end/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar