Iklan Banner Sukun
Ekbis

Dipasarkan Lewat Medsos

Pemuda Asal Ponorogo dapat Cuan dari Miniatur Kincir Air

Ari Dwi Priwanto saat menunjukkan miniatur kincir air dari bambu buatannya. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Bermain media sosial tidak melulu berdampak negatif, jika kita benar memanfaatkannya malah menjadi berkah. Banyak hal positif, bermedia sosial, selain menambah pertemanan, juga mendatangkan cuan. Seperti yang dilakukan oleh Ari Dwi Priwanto. Warga Desa Tatung, Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo itu sukses memasarkan miniatur kincir air buatannya lewat media sosial (medsos).

“Alhamdulillah, perdana bulan ini omzetomzet penjualan miniatur kincir air ini tembus Rp 4 juta,” kata Pemuda berusia 25 tahun tersebut.

Lewat media sosial ini, peminat miniatur kincir air buah kreativitas dari Ari ini, bukan hanya dari Ponorogo saja. Namun, juga dari luar kota, seperti dari Ngawi, Madiun, dan Pacitan. Dia bersyukur usaha yang badu digelutinya sebulan terakhir banyak peminatnya.

“Kebanyakan pesanan datang dari luar kota, misalnya Madiun, Ngawi dan Pacitan,” ungkapnya.

Produk miniatur kincir air yang berbahan dasar bambu ini merupakan hasil coba-cobanya Ari setelah lihat di Youtube. Dari melihat video pembuatan miniatur kincir air dari YouTube tersebut, Ari tergugah untuk membuat sendiri. Awalnya pun hanya untuk usaha sampingan dari usaha utamanya sebagai pedagang sayur di pasar.

“Mulanya iseng buat setelah melihat video di Youtube. Setelah jadi diposting di media sosial. Tidak menyangka ternyata responnya bagus,” katanya.

Miniatur kincir air buatan Ari ini, harganya bervariasi. Berkisar di harga Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Tergantung dari ukuran dan bentuknya. Harga semakin tinggi tak kala bentuk dan ukuran sesuai dengan permintaan pemesan.

Untuk bahan baku bambu, menurut Ari, dirinya juga tidak mengalami kesulitan. Sebab, pohon bambu banyak terdapat di lingkungannya. Biasanya Ari menggunakan jenis bambu Wulung untuk usaha miniatur kincir airnya. Namun, jika tidak ada bambu Wulung, bisa juga digunakan dengan jenis bambu Apus.

“Kalau bahan baku tidak mengalami kesulitan, sebab banyak pohon bambu di sekitar rumah. Biasanya menggunakan bambu Wulung, karena warna dan coraknya bagus. Bisa juga menggunakan bambu Apus,” pungkasnya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar