Ekbis

Pemerintah Harus Berpihak pada Petani dan Peternak

Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pada tahun 2018 mencatat surplus daging ayam sebesar 517,8 Ribu Ton. Telur ayam ras surplus 26,1 Ribu Ton. Namun Daging sapi dalam negeri baru mencukupi 58,4% dari kebutuhan nasional, dan pemanfaatan Susu Sapi Dalam Negeri (SSDN) baru 21,9 % dari kebutuhan nasional.

Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Drh I Ketut Diarmita MP, saat membacakan sambutan Menteri Pertanian di acara Indo Livestock Expo & Forum yang digelar di Convex Grandcity, Rabu (3/7/2019).

Dikatakan, perlu akselerasi ekspor untuk komoditas daging dan telur ayam ras, serta peningkatan produksi dan produktivitas daging sapi dan susu untuk mencapai kedaulatan pangan asal ternak.

“Kementerian Pertanian menyambut baik pameran dagang dan teknologi yang digelar sejak 3-5 Juli 2019. Sebab Indo Livestock Expo & Forum dihadiri oleh para pembuat keputusan dan buyers nasional dan internasional, dengan target lebih dari 12.000 pengunjung dan delegasi perdagangan, serta lebih dari 400 peserta pameran dari 35 negara, maka acara ini menawarkan peluang yang sangat besar, bagi kemajuan bidang peternakan dan kesehatan hewan,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Mayjen (Purn) Bambang Budi Waluyo, mendorong pemerintah meningkatkan kepedulian pada petani maupun peternak. Salah satunya, pemerintah harus melakukan pengawasan terhadap para tengkulak yang banyak merugikan petani.

Pemerintah juga harus membentuk simpul-simpul pertanian, perikanan dan peternakan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Tak hanya itu, kebijakan impor pangan juga harus memperhatikan situasi pertanian. Misalnya, ketika sedang panen, kebijakan impor harus ditahan terlebih dulu. Sehingga, hasil panen petani harganya tidak jatuh akibat pasokan melimpah.

“Kestabilan harga juga harus menjadi perhatian serius. Makanya kami minta agar Satgas Pangan bekerja sepanjang tahun, tidak perlu menunggu momen Lebaran saja,” tambahnya.

Bambang juga mendesak agar pemerintah mendorong bangkitnya teknologi pertanian lokal. Menurutnya, teknologi pertanian sangat penting guna mendorong produktifitas petani. Hampir semua negara-negara yang sektor pertaniannya maju, karena memiliki teknologi pertanian yang maju pula. Jika teknologi pertanian mendatangkan dari luar negeri, maka petani tidak akan mampu menjangkaunya.

“Pameran ini membidik pelaku usaha di sektor peternakan, kesehatan hewan, pakan ternak, pengolahan susu dan alat-alat kedokteran hewan serta perikanan. Menurutnya, industri peternakan dan perikanan sedang menjadi perhatian yang cukup tinggi,” sela Project Director PT Napindo Media, penyelenggara pameran, Agung Wicaksono

Ada 250 stan yang menjadi peserta. Dari jumlah itu ada perwakilan peserta dari 25 negara. Khusus untuk enam negara membentuk pavilion atau stan besar tersendiri, yaitu dari China, Korea Selatan, Taiwan, Eropa dan Amerika. [rea/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar