Ekbis

Pelaku Ekonomi Kreatif Pamekasan di Tengah Pandemi Covid-19

Pamekasan (beritajatim.com) – Pandemi virus corona alias Covid-19 yang melanda hampir di seluruh wilayah di Indonesia, dalam beberapa bulan terakhir, sangat memberikan dampak bagi pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Pamekasan.

Bahkan salah satu pelaku ekonomi kreatif di Pamekasan, Ghafiruddin mengaku harus mengurangi produksi produk odheng, topi batik baret dan kopyah batik yang dikelolanya. Terlebih kondisi pandemi membuatnya harus bekerja ekstra keras dan hati-hati demi mengantisipasi berbagai kemungkinan.

“Kami akui selama masa pandemi Covid-19 memang sangat berdampak terhadap usaha kami, bahkan saat memasuki masa pandemi produksi produk menurun drastis. Apalagi produk yang laku hanya sekitar 20 pak per bulan selama pandemi ini,” kata Ghafiruddin, Senin (24/8/2020).

Selama masa pandemi tersebut pihaknya juga sempat tidak melakukan produksi produk akibat tidak adanya orderan dari pelanggan. “Bahkan pernah juga selama sebulan tidak ada orderan sama sekali, dan pelanggan menyetop permintaan produk,” unykapnya.

“Tidak hanya itu, sebelum masa pandemi produk yang kami jual berkisar di angka sekitar 100 hingga 150 pak perbulan. Namun saat pandemi produksi menurun secara drastis, bahkan setiap bulan hanya laku sekitar 20 pak,” ungkap pemuda yang akrab disapa Elza Gaff.

Salah satu model produk yang dikembangkan melalui sektor ekonomi kreatif.

Kondisi pandemi Covid-19 tidak hanya terjadi pada sektor produk odheng, topi maupun kopyah batik. Tetapi juga berimbas pada jenis produk lainnya, termasuk sektor ekonomi melalui UMKM lain yang tersebar di berbagai wilayah di Pamekasan.

“Namun demikian, kami akan tetap berupaya sekaligus komitmen untuk terus mempertahankan produksi sekalipun tengah berada di tengah pandemi. Tidak kalah penting kami juga berharap agar pandemi Covid-19 ini segara berakhir dan tata kehidupan kembali normal khususnya pada sektor ekonomi,” pungkasnya.

Berdasar hasil survie LIPI per Juni 2020 lalu, pandemi Covid-19 menyebabkan 39,4 persen pengusaha menghentikan kegiatan produksi dan 57,1 persen tetap berjalan dengan jumlah menurunkan jumlah produksi. Sementara usaha yang terhenti sebagian bergerak di bidang interaksi, seperti ritel sebesar 45,2 persen dan jasa kemasyarakatan 49,8 persen.

Begitu juga jenis usaha yang membutuhkan modal dan tenaga kerja yang cukup banyak, seperti sektor konstruksi dan bangunan sebanyak 44,2 persen dan jasa perusahaan 50,7 persen. Sementara usaha yang mengurangi produksi hampir terjadi pada semua sektor ekonomi, tetapi menonjol pada sektor industri pengolahan, listrik, gas dan air minum, pertambangan dan penggalian, dan usaha sektor pertanian. [pin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar