Ekbis

Pelabuhan Terminal Teluk Lamong Penyangga Logistik Ditengah Pandemi Covid-19

Kapal kontainer melakukan bongkar muat barang logistik di Pelabuhan Terminal Teluk Lamong

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 yang melanda tanah air selama dua tahun diakui memukul semua sektor termasuk ekonomi. Agar bisa bertahan maka pilihannya beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Sebab, dengan kondisi seperti sekarang masih ada sektor yang masih berdenyut yakni sektor logistik yang diandalkan menopang sektor lain agar tetap bisa bergerak. Sektor tersebut sangat erat sekali dihubungkan dengan pelabuhan.

Pengiriman barang dari pelabuhan lalu dilanjutkan ke sejumlah daerah membutuhkan pelayanan logistik yang maksimal. Artinya, barang yang hendak dikirim bisa tepat waktu dan sesuai tujuan. Bisa dibayangkan kalau sektor logistik terganggu, dampaknya butuh waktu berbulan-bulan barang yang dikirim baru bisa dipakai. Hal inilah yang tidak diinginkan oleh manajemen PT Pelabuhan Terminal Teluk Lamong yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia III (persero).

Sejak beroperasi 22 April 2015 dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Keberadaan pelabuhan tersebut diharapkan bisa menjadi penyangga logistik ditengah pandemi Covid-19. Arus barang ekspor maupun impor harus tetap berjalan agar perekonomian di Jawa Timur, serta di Indonesia bagian barat hingga timur bergerak dan tidak stagnan.

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur, Isdarmawan Asrikan menuturkan, pelayanan Pelabuhan Terminal Teluk Lamong sudah bagus mendukung logistik khususnya barang ekspor.

Namun, pelayanan kedepan bisa dikembangkan lagi. Pasalnya, lahan di pelabuhan ini masih luar biasa untuk dikembangkan baik buat peti kemas maupun non peti kemas. Ditambah sumber daya manusia (SDM) yang didominasi anak muda juga mendukung serta akses komputerisasi guna mempercepat pelayanan bongkar muat.

Isdarmawan Asrikan mencatat selama semester pertama Januari hingga Juni 2021. Ekspor non migas Jawa Timur mencapai USD 10,92 miliar, atau naik 13,24 persen dibandingkan bulan Januari hingga Juni 2020. Adapaun tujuan ekspor Jawa Timur antara lain ke negara Amerika Serikat senilai USD 1,58 miiliar. Disusul ke negara Jepang yang mencapai nilai USD 1,54 miliar, dan negara China USD 1,31 miliar

“Dari data tersebut menunjukkan bahwa ekspor non miigas asal Jawa Timur meningkat meski ditengah pandemi Covid-19. Ini menandakan ekspor tetap bisa berjalan karena didukung sarana dan prasarana logistik yang sangat memadai khususnya kepelabuhanan,” tuturnya kepada beritajatim.com, Sabtu (24/07/2021).

Kapal kontainer melakukan bongkar muat barang logistik di Pelabuhan Terminal Teluk Lamong

Kendati pelabuhan tersebut didukung sistem komputerisasi lanjut Isdarmawan Asrikan, namun masih ada kendala yang dihadapi pelaku jasa kepelabuhanan di lapangan. Ini karena pelaku usaha banyak memanfaatkan aplikasi kepabeanan terkait mengurus ekspor maupun impor.

Dirinya, mencontohkan saat ada ‘trouble’ di aplikasi otomatis arus bongkar muat barang terganggu. Dimana, yang semestinya bisa diselesaikan 3 hingga 5 hari. Tapi, saat terjadi hal demikian maka waktu yang dibutuhkan bisa seminggu lebih.

“Kalau sudah demikian kami dibebani biaya tarif progresif karena terjadi penumpulam barang. Padahal, di negara lain hal seperti itu ditiadakan. Hal inilah yang menjadi beban pelaku jasa kepelabuhanan. Apalagi 70 persen barang yang masuk merupakan komoditi impor,” ujarnya.

Tekan Biaya Tambahan

Bicara soal efisiensi kata Isdarmawan Asrikan, memang menjadi tantangan bagi pelaku jasa kepelabuhanan ditengah pandemi yang sampai saat ini belum berakhir. Menghadapi hal itu, dibutuhkan keahlian manajemen yang teliti. Ibaratnya, jangan sampai saat ada kendala di lapangan malah mengganggu logistik pengiriman barang.

“Biaya-biaya penumpukan itu hingga saat ini masih dikeluhkan oleh pelaku usaha. Meski demikian, keberadaan Pelabuhan Terminal Teluk Lamong sangat membantu kecepatan arus bongkar muat barang ekspor maupun impor. Sehingga, bisa diandalkan untuk berkompetisi dengan negara lain,” ungkapnya.

Sementara Ketua Indonesia Shipowners Association (INSA) Surabaya, Stenvens Handry Lesawengen
menyatakan Pelabuhan Terminal Teluk Lamong memang didesain mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya agar logistik bongkar muat peti kemas baik lokal maupun internasional terurai. Pasalnya, selama puluhan tahun kapal yang hendak bongkat muat, atau sandar menunggu lama.

“Keberadaan Pelabuhan Terminal Teluk Lamong mengurani hal tersebut. Apalagi pelabuhan internasional itu diklaim sebagai pelabuhan kontainer terbaik di negara kawasan Asean karena didukung komputerisasi,” paparnya.

Seiring dengan perkembangannya kata Stenvens, Pelabuhan Terminal Teluk Lamong memang diperuntukkan buat non kontainer risk. Pelabuhan ini memang buat cocok buat bongkar muat food grade (barang makanan) dan kecepatan pelayanannya luar biasa. Dimana, kapal yang akan bongkar 10 ribu ton bisa diselesaikan kurang dari tiga hari dengan menggunakan alat convayer.

Beroperasinya itu, otomatis beban operasional Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mencair. Pelabuhan ini sangat strategis karena bisa mengurangi ‘dwilling time’ (berapa lama suatu kontainer berada di pelabuhan) sehingga membantu para pelaku usaha kepelabuhanan.

Saat ditanya pandemi Covid-19 yang sudah berjalan dua tahun. Dikatakan Stenven hal itu tidak ada kaitannya. Pasalnya, sistem yang digunakan di Pelabuhan Terminal Teluk Lamong menggunakan komputerisasi. Sehingga, kecepatan pelayanannya lebih baik dibanding puluhan tahun lalu. Kapal yang bongkar muat bisa dilayani dengan cepat. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi pelaku usaha karena tidak ada lagi demurage (batas waktu penggunaan petikemas) di pelabuhan.

Secara terpisah, Direktur Operasi dan Teknik PT Pelabuhan Terminal Teluk Lamong Warsilan menambahkan, saat ini ada peningkatan kunjungan kapal karena adanya kapal-kapal ad-hoc dari beberapa pelayaran baik internasional maupun domestik yang sandar di Terminal Teluk Lamong (TTL).

“Peluang untuk terus bertumbuh pada semester kedua tahun 2021 apabila melihat kinerja pada semester pertama rata-rata mengalami pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020,” imbuhnya.

Berdasarkan perhitungan kunjungan kapal yang sandar di Pelabuhan Terminal Teluk Lamong (TTL) pada semester pertama tahun 2021 tercatat 694 unit kapal, jumlah ini mengalami kenaikan 21,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang mencatat 569 unit kapal.

Tambahan kapal yang dimaksud lanjut Warsilan adalah tambahan angkutan laut negeri dari KMTC Line, GSL Line, Cosco, CMA, dan Evergreen yang sandar di dermaga Internasional Terminal Teluk Lamong.
Sementara di dermaga domestik juga terjadi hal yang sama, ada penambahan kunjungan kapal dari Mentarimas Multimoda untuk rute bagian timur seperti Ambon, Maluku, dan Sulawesi.

“Pada semester pertama Tahun 2021 arus petikemas TTL sebanyak 368.144 TEUs atau mengalami kenaikan 10,13 persen dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2020 sebanyak 334.292 TEUs. Selain karena adanya penambahan kunjungan kapal dari beberapa agen pelayaran, tambahan pelayaran Internasional yang tergabung dalam CIS Service (OOCL, ONE, dan GSL) juga memberikan pengaruh pada kenaikan arus petikemas di Pelabuhan Terminal Teluk Lamong,” tandasnya.

Sedangkan komoditi curah kering di semester pertama tahun 2021 sebanyak 1.418.369 ton masih turun tipis 12,67 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 sebesar 1.624.170 ton. Penurunan angka muatan komoditi curah kering yang dilayani oleh Pelabiuan Terminal Teluk Lamong yang berupa bahan pangan, dan pakan ternak dikarenakan kondisi pandemi Covid-19.

Kondisi itu berdampak pada penurunan produksi dari penggguna jasa serta adanya hambatan negara asal komoditi curah kering. Sehingga, berimbas pada mundurnya proses pemuatan barang dan jadwal kedatangan kapal.

“Kami optimis tahun ini Pelabuhan Terminal Teluk Lamong dapat mencapai target kinerja sesuai dengan yang direncanakan. Dia juga meminta agar seluruh karyawannya tetap bekerja produktif dan lebih disiplin lagi menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi di tengah Pandemi covid-19. Selain itu, perusahaan akan terus melakukan digitalisasi pada seluruh layanan bisnis yang terintegrasi,” pungkas Warsilan. (dny/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar