Ekbis

Pasang Listrik Panel Surya, Hemat Hingga Rp 200 ribu Perbulan

Bojonegoro (beritajatim.com) – Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi pada Sabtu (9/11/2019) lalu mengakibatkan beberapa bangunan serta pohon penghijauan porak poranda. Jaringan listrik hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro padam. Beberapa jam kondisi kota gelap.

Lampu penerangan jalan mati, rumah-rumah menggunakan penerangan lilin. Termasuk di kawasan Desa Campurejo. Namun satu rumah yang berada di Jalan Masjid, Dusun Plosolanang, RT 16 RW 012, Desa Campurejo, Kabupaten Bojonegoro terlihat terang sendiri. Alhasil, rumah itu menjadi perhatian warga setempat.

“Pada saat mati lampu rumah bapak ini lampunya nyala sendiri. Sehingga banyak tetangga yang bilang ingin memasang panel surya juga,” ujar Riza Yulian (24) saat ditemui di rumahnya, Jumat (22/11/2019).

Ternyata rumah tersebut menggunakan jaringan listrik tenaga surya. Menurut Riza, jaringan listrik itu sudah dipasang sejak 2017 lalu. Pemasangan dilakukan sendiri sembari melakukan eksperimen peralatan baru untuk pengembangan konvensi dari energi surya menjadi energi listrik.

“Pemasangan panel surya ini juga untuk kebutuhan riset sendiri. Karena sekarang juga menjalankan usaha bersama yang konsen pada pemasangan solar cell (panel surya) di Surabaya,” ujar alumni Jurusan Teknik Elektro Unesa angkatan 2013 itu.

Usaha yang dijalankannya bersama tiga orang temannya itu merupakan lanjutan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dilakukan selama kuliah dulu. Saat itu timnya konsen dalam pemasangan jaringan penerangan menggunakan panel surya untuk penanaman buah naga di Kabupaten Banyuwangi. “Dari program PKM itu sekarang masih lanjut. Dan kini sedang melakukan eksperimen perakitan peralatan baru rangkaian otomatis agar solar cell bisa menghadap ke arah matahari terus,” terangnya.

Riza bersama temannya merakit sendiri komponen rangkaian otomatis untuk menghadapkan panel surya ke arah matahari dan rangkaian untuk mengganti aliran listrik dari PLN ke panel surya secara otomatis. Tipe jaringan solar sel ini, kata dia, ada dua jenis. Menjadi satu dengan jaringan PLN dan ada yang terpisah atau membuat jaringan sendiri.

Dari jaringan listrik panel surya ini, dia mengaku bisa menghemat biaya langganan listrik PLN antara Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu perbulan. Sejak memasang solar sel biaya langganan listrik PLN hanya Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu perbulan. Sedangkan, biaya untuk pemasangan solar sel ini dia mengaku menghabiskan biaya Rp 10 juta.

Riza menggunakan rangkaian tiga lembar panel surya dengan daya 150 watt. Dari panel surya tersebut kemudian dikonversi masuk ke solar charge controller/SCC (mengontrol tegangan dan mengisi daya baterai) setelah masuk ke baterai kemudian disalurkan ke inverter yang mengubah aliran listrik DC ke AC.

Untuk inverter, Riza menggunakan daya 1200 Watt. Baterai atau aki menggunakan aki truk berdaya 200 AH atau 2.500 Watt. Sedangkan kebutuhan listrik di rumahnya rata-rata membutuhkan daya antara 300 sampai 500 Watt. Jaringan listrik panel surya itu kini sudah bisa membackup semua kebutuhan rumah.

Dari segi perawatan, panel surya ini lebih mudah. Bahkan bagi yang awam pun bisa melakukannya. Yang paling utama untuk dilakukan harus dijaga kondisi air aki sesuai dengan yang sudah ditentukan dan jangan sampai kehabisan. Membersihkan panel surya jika sudah berdebu agar penyerapan energi panasnya maksimal. “Selebihnya perawatan sudah dicover oleh SCC,” pungkasnya.

Salah seorang warga Bojonegoro, Sueb mengaku dengan adanya panel surya ini sangat membantu serta lebih ekonomis. Selain hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik rumah tangga juga bisa dipakai secara kelompok atau instansi. “Misalnya dikelola oleh BUMDesa dipakai pengembangan kawasan wisata,” ungkapnya. [lus/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar