Ekbis

Pandemi Covid-19, Buruh Pabrik Jadi Pengrajin Layangan

aption : Ahyanto warga Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon Kota Mojokerto saat membuat layangan. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Selama tiga bulan lebih buruh pabrik rumahan tak bekerja lantaran terdampak Covid-19, warga Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon Kota Mojokerto ini harus memutar otak. Ahyanto (52) akhirnya beralih menjadi pengrajin layangan yang ia pelajari secara otodidak dari YouTube.

Hampir seluruh warga Kelurahan Surodinawan merupakan pengrajin sandal atau sepatu, namun karena Covid-19 permintaan pasar turun. Secara otomatis aktivitas produksinya tersendat sehingga para karyawan tidak lagi bisa bekerja, seperti yang dialami Ahyanto.

Ia mengaku, setelah hari raya Idul Fitri 1441 H ia sudah mulai berhenti bekerja sebagai karyawan home industri membuat sandal dan sepatu. “Selain di Mojokerto, biasanya ngirim barang juga keluar Kota. Seperti Surabaya, Malang dan Jogja tapi karena pandemi ini tak bisa ngirim lagi,” ungkapnya, Sabtu (8/8/2020).

Di saat tak ada pekerjaan, ia pun mulai berpikir bagaimana mendapatkan penghasilan untuk keluarganya karena pengeluaran setiap harinya dalam berumah tangga dipastikan tidak pernah berhenti. Sekitar tiga bulan tidak bekerja membuat tabungannya mulai menipis. Masuk musim kemarau, ternyata menjadi ia lebih kreatif.

“Kalau musim kemarau biasanya kan musim main layang-layang. Jujur, awalnya saya tidak pernah bikin layangan. Terus saya belajar cara membuat nya di YouTube, akhirnya ya bisa. Saya buat berbagai macam bentuk layangan, seperti layangan tengkorak, kuntilanak, panda, semut hitam dan berbagai macam model lainya,” katanya.

Kemudian hasil karya tangannya itu di tawarkan di media sosial (medsos). Seperti Facebook (FB) dan Instagram (IG). Tak urung ia kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di wilayah Mojokerto, bahkan sampai kewalahan. Karena ia mengerjakan dengan tangannya sendiri tanpa ada karyawan yang membantu.

“Sebenarnya banyak yang pesan untuk dibuatkan tapi saya hanya bisa membuat 5 sampai 6 layangan dalam sehari. Harganya tergantung dari model layangan, semakin sulit dan memerlukan waktu cukup lama maka semakin mahal. Harganya mulai dari harga Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Ya Alhamdulillah, dalam sehari saya bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp200 ribu,” tegasnya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar