Ekbis

Padi KKJ01, Pendongkrak Hasil Panen Petani di Pinggiran Jombang

Panen padi KKJ01 di Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Jombang, Sabtu (27/3/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Padi menguning terhampar luas di Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Jombang, Sabtu (27/3/2021). Tanaman tersebut mulai merunduk, pertanda siap untuk dipanen. Para petani nampak bergerombol di tepian sawah, ada juga yang mondar-mandir di pematang. Mereka memanggul padi yang baru saja dipanen untuk dibawa ke tepi jalan.

Selain tenaga manusia, panen yang dilakukan para petani tersebut juga menggunakan mesin. Itu terlihat di sawah paling ujung. Mesin pemotong padi atau combine menderu, menerabas jajaran padi yang mulai merunduk itu. Bergerak mengelilingi lahan padi yang dipanen.

Di atas kendaraan mirip traktor tersebut, seorang operator duduk di belakang kemudi. Dia konsentrasi menjalankan mesin pemanen. Sementara di bagian belakang dua lelaki tak kalah sibuk. Mereka menata karung yang digunakan sebagai wadah butiran padi.

Batang padi yang terpotong, lalu masuk mesin, kemudian keluar lagi sudah dalam bentuk butiran terwadahi karung plastik. Itu berlangsung berulang-ulang. “Yang sedang dipanen ini padi jenis KKJ01. Padi hasil inovasi petani Desa Jombatan,” kata Arif Wibisono, salah satu petani yang sedang menunggui panen tersebut.

Abdul Wahab (50), petani lainnya, berdiri agak jauh dari hiruk pikuk mesin combine. Namun pandangannya tetap menyapu hamparan padi di depannya. Beberapa petani lainnya tidak kalah sibuk. Mereka membuat sampel berupa ubinan 2,5 X 2,5 meter. Tujuannya, untuk mengetahui berapa hasil panen musim ini. Dari sampel ubinan tersebut didapatkan hasil 7,1 kilogram padi.

Abdul Wahab sedang menunjukkan bibit padi miliknya, Sabtu (27/3/2021)

Sehingga hitungannya, setiap seratus bata (1.400 meter persegi atau 1/7 hektar) menghasilkan padi 1 ton 6 kuintal. Dengan kata lain, setiap hektar lahan mampu menghasilkan kisaran 11,2 ton padi. “Produktifitas padi KKJ01 ini sangat bagus. Kalau musim tanam II, bisa lebih tinggi lagi,” kata Abdul Wahab.

Hasil itu membuat pria yang akrab disapa Pakde Wahab ini sangat puas. Berkali-kali senyum sumringan mengembang dari bibirnya. Karena upaya yang dia lakukan selama empat tahun berbuah manis. Bibit padi hasil besutannya mampu meningkatkan hasil panen bagi petani.

Bermula dari Kebun
Mesin combine terus menderu di sawah Desa Jombatan. Sejumlah petani masih berderet di tepi jalan desa. Namun Pakde Wahab balik kanan, menggeber sepeda motornya untuk kembali ke rumah yang hanya berjarak sekitar 600 meter.

Rumah itu halamannya sangat luas. Ada sejumlah pohon yang membuat halaman itu selalu rindang. Di teras rumah beberapa bibit padi yang diwadahi plastik bening berjajar. Sedangan di sebelahnya ada juga butiran padi yang sedang dijemur.

Wadah plastik ukuran 5 kilogram itu terdapat tempelan stiker bertuliskan ‘Padi Bagus Jombang’. Di atasnya terdapat gambar tangan sedang menggenggam tanaman padi. Ada juga tulisan ‘Wahanagrow’ serta tulisan hitam KKJ01.

“Ini bibitnya. Per kemasan ukuran 5 kg ini harganya antara Rp 85 hingga Rp 100 ribu. Kalau reseller, ada harga tersendiri. Tergantung permintaan dan jarak pengiriman. Bibit inilah yang padinya kita panen tadi,” kata Pakde Wahab sembari mengepulkan asap rokoknya.

Mengapa harus membuat bibit sendiri? Pakde Wahab mengungkapkan bahwa bertani adalah dunianya sejak kecil. Selain itu dirinya juga berharap agar petani semakin dimudahkan dalam menjalani pekerjaannya. Caranya, dengan menyiapkan bibit yang penanaman dan perawatannya sangat mudah, sedangkan hasilnya juga lebih baik dari yang lain.

Pria berusia 50 tahun ini lantas membeber keunggulan padi lokal hasil inovasinya itu. Semisal anakan padi lebih banyak, kemudian butirannya juga banyak karena KKJ memiliki malai panjang. Sementara secara batang, juga mampu tumbuh lebih tinggi dibanding padi lainnya.

Seorang petani sedang malkukan pengemasan bibit KKJ01

“Perawatannya sangat mudah. Dengan padi ini, lahan per seratus bata (1.400 meter persegi), hasilnya pernah tembus 2 ton padi. Itu terjadi dua kali. Setelah itu, antara 1,4 sampai 1,6 ton. Karena kalau musim tanam I itu rawan rebah,” kata Pakde Wahab.

Disinggung soal nama KKJ, pria berkacamata ini mengatakan bahwa nama tersebut merupakan singkatan dari King Kebun Jombatan. “Karena memang awalnya dari kebun. Sebenarnya kita beri nama Saking Kebon Jombatan. Kemudian kita ambil singkat King Kebon Jombang atau KKJ,” urainya.

Walhasil, petani sekitar mulai melirik bibit tersebut untuk ditanam. Bahkan permintaan mulai mengalir ke luar kota. Semisal, Lamongan, Tulungagung, Bojonegoro, Kediri, Nganjuk, Sidoarjo, dan Mojokerto.

“Di Desa Jombatan ini 30 persen lahan menggunakan KKJ. Luasan total lahan pertanian di Jombatan 350 hektar. Untuk musin tanam ini, bibit kita yang terjual sebanyak 7 ton. Jumlah tersebut meningkat dibanding musim sebelumnya hanya 4 ton,” kata Pakde Wahab memungkasi.

Matahari terus meninggi, hiruk pikuk di sawah Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben belum juga usai. Mesin pemotong padi (combine) masih menderu. Berputar-putar menggerus batang-batang padi. Sementara obrolan di teras rumah Pakde Wahab terus berkembang. Dari bibit padi, harga gabah, hingga rencana impor beras yang melukai hati petani. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar