Ekbis

Omzet Turun, Pengusaha Kue Kering di Surabaya Tercekik

Surabaya (beritajatim.com ) – Menjelang Hari Raya Idul Fitri sejumlah pengusaha Usaha Kecil Mikro Mengah (UMKM) di Kota Surabaya lesu darah akibat omzet penjualan turun drastis.

Salah satunya Diah Arfiantin, pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bertajuk Diah Cookies sejak pandemi pandemi COVID-19, usaha kue kering produk unggulan UMKM binaan Pemkot Surabaya anjlok hingga 70 persen.

Di Surabaya, kue buatan Diah ini cukup terkenal. Bahkan, pesanan dari luar daerah melalui online pun mengalir deras menjelang Lebaran. Begitu pula dengan pembelian dalam kota, Diah kerap menjual kuenya secara langsung, melalui agen hingga lewat ojek online.

Namun, semenjak munculnya wabah corona, Diah mengaku usahanya ikut terdampak. Diah pun memilih putar otak dan mencari segmentasi baru untuk kuenya.

Terlebih, pemerintah tengah menggalakkan masyarakat untuk stay at home atau di rumah saja. Imbauan pemerintah ini menjadi ide bagi Diah. Dia memanfaatkan momentum ini untuk menjemput pundi rupiah.

Diah pun mempromosikan kuenya yang menjadi teman masyarakat saat di rumah saja. Awalnya, hal ini membuatnya cukup percaya diri untuk bertahan di tengah pandemi.

“Di rumah saja kan biasanya bawaanya pingin nyemil. Saya galakkan promosi itu di sosmed. Kalau kondisi biasa saya level kerja 1-10 sekarang 1-20,” kata Diah, Rabu (15/4/2020).

Meski memiliki ide untuk menggalakkan promosi penjualan kuenya di sosmed saat stay at home. Namun, apa yang diinginkan Diah ternyata tak sejalan. Diah tak memungkiri pandemi ini membuat omset penjualannya merosot drastis.

“Pada kondisi normal mendekati lebaran, dalam waktu sehari bisa mengantongi keuntungan hingga Rp 8 hingga 10 juta. Namun saat pandemi ini orderan tetap ada tapi sekarang sejuta saja susah,” curhat Diah.

Diah juga bercerita dampak virus corona juga melesukan arus pemasukan di usahanya. Pada bulan Februari lalu, ia sempat membaca keadaan harga bahan baku kue akan mengalami lonjakan. Menyiasati hal itu, ia bergegas memborong segala amunisi bahan-bahan kue.

“Bahan itu harganya mahal loh. Itu kalau ditotal kira-kira sampai ratusan juta. Saya stok banyak eh ternyata kondisinya gini,” tambah dia.

Meski demikian, sebagai manusia yang sedang menjalani cobaan di tengah pandemi ini, Diah juga sempat menyalahkan keadaan. Namun setelah berkonsultasi dengan mentornya, ia pun sadar dan menguatkan tekad untuk tetap survive, sebab ia menyadari hal semacam ini tak hanya ia rasakan saja, tapi banyak orang juga mengalami nasib yang sama.

“Sempat kacau saya. Rasanya kayak kalah judi. Semua orang kena marah. Terus saya hubungi mentor katanya orang sukses itu harus kuat mental apapun dari segala hasil keburukan,” imbuh dia. (ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar