Ekbis

Omzet Retail di Mall Turun Hingga 60 Persen

Surabaya (beritajatim.com) – Sebagian besar sektor rill seperti pelaku UMKM, pedagang asongan yang mengandalkan penghasilan dari pendapatan harian sudah mengeluh karena merosotnya pendapatan mereka. Kini peritel besar pun mulai mengalami penurunan omzet hingga 60 persen.

Ritel yang ada dalam mall di Surabaya mencatat penurunan yang berbeda-beda ada yang 40 persen dan ada yang sudah merosot hingga 60 persen. Sedangkan retail mandiri turun hingga 15 persen.

“Ada potensi pendapatan yang hilang akibat Covid-19. Terjadi penurunan yang sangat signifikan dari realisasi rata-rata penjualan seluruh ritel di Surabaya mencapai Rp 646 miliar per bulan. Dan ini terjadi setelah pengumuman masuknya Civid-19 di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 220 yang lalu,” tegas Staf Ahli Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu ketika dikonfirmasi.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ada beberapa kriteria dalam industri ritel tanah air. Pertama adalah ritel dengan kategori minimarket dengan rata-rata penjualan mencapai sebesar Rp 10 juta per hari. Jumlah minimarket di Surabaya mencaapi 432 unit dengan total transaksi per bulan sebesar Rp 129,6 miliar. Kedua kategori supermarket dengan rata-rata penjualan sebesar 125 juta per hari. Jumlah supermarket di Surabaya mencapai 35 unit dengan total transaksi per bulan sebesar Rp 131,6 miliar.

Selanjutnya kategori hypermarket dengan rata-rata transaksi saat kondisi normal sebesar Rp 300 juta. Jumlah hypermarket di Surabaya mencapai 20 unit dengan total transaksi per bulan sebesar Rp 180 miliar. Departemen store dengan rata-rata penjualan sebesar Rp 500 juta per hari berjumlah 10 unit. Total transaksi saat kondisi normal mencapai Rp 150 miliar per bulan. Dan sisanya lain-lain sebanyak 75 unit dengan transaksi 25 juta atau sebesar 56,25 miliar per bulan.

“Untuk ritel yang terintegrasi dengan mall ini yang penurunannya sangat tinggi, yaitu sekitar 40 persen hingga 60 persen. Karena adanya pembatasan aktifitas masyarakat maka terjadi potensi loss of sales yang cukup besar. Kalau ini terjadi dalam tiga bulan, maka potensi pendapatan yang hilang pada ritel di Surabaya mencapai sekitar Rp 1,9 triliun. Dan di seluruh Jatim bisa mencapai Rp 11 triliun” tegasnya.

Stok cukup dan imbau masyarakat gunakan layanan online

Meski demikian, Aprindo memastikan ketersediaan seluruh bahan pokok yang diperlukan masyarakat masyarakat masih sangat cukup. Hanya ada beberapa komoditas saja yang agak sulit, yaitu gula.

Untuk itu, Aprindo bekerjasama dengan Perum Bulog untuk menyediakan gula di sejumlah ritel dengan harga sesuai HPP, yaitu sebesar Rp 12.500 per kilogram. Di Jawa Timur, pendistribusian gula ini telah dilaksanakan di Surabaya, Sidoarjo dan Kediri.

“Program ini akan terus dilanjutkan di sejumlah kota lain agar masyarakat bisa terbantu,” ujar Ibnu.

Terkait imbauan pemerintah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Presiden Republik Indonesia agar tetap di rumah dan todak keluar, maka Aprindo mengimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan layanan online dari outlet ritel yang ada. Karena hampir seluruh ritel sudah memiliki layanan tersebut, misalnya Indomaret dan Alfamart.

“Manfaatkan fasilitas belanja online melalui delivery services. Ini untuk menghindari transaksi dengan tatap muka, Karen arata-rata sudah, konsumen tinggal telepon saja nanti toko yang akan mengecek dan mengirim,” terangnya.

Selain itu, Aprindo juga mengimbau agar belanja sewajarnya, sesuai kebutuhan agar tidak terjadi aksi borong. “Stok aman dan tidak ada yang kosong. Jadi belanja yang sewajarnya agar tidak terjadi aksi borong,” kata Ibnu.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Timur 1 Aprindo, April Wahyu Widarti menegaskan bahwa berkaitan dengan tanggap darurat corona ini Aprindo sudah menghimbau kepada semua anggota utk melakukan tindakan dalam perlindungan kepada karyawan dan customer.

“Hal hal yang sudah di informasikan dalam protap ritel dimana setiap ritel harus memperhatikan karyawan dengan cara melakukan pengecekan suhu kepada semua karyawan internal external dan tamu yg masuk lewat pintu karyawan. Ini dilengkapi logbook untuk monitoring,” ujar April.

Selian itu juga menyediakan tempat cuci tangan dengan perlengkapan sabun cuci dan air mengalir serta melakukan sanitasi rutin di semua peralatan kerja dan semua property karyawan misal laci, loker, musola, kamar mandi dan lain sebagainya.

“Selain itu kmai juga memberian vitamin kepada karyawan, mengatur jam istirahat agar tidak terjadi penumpukan di kantin, mengatur jarak di musola dan tempat duduk kantin serta melengkapi hand sanitizer di dalam kantor dan juga untuk konsumen. Kami juga menyediakan ruang isolasi sementara utk customer yg suhu badannya diatas 37 C,” pungkasnya. [rea/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar