Ekbis

OJK Ingatkan Perbankan Tidak Menjebak Pengusaha Mikro

Probolinggo (beritajatim.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya dan mencari solusi terbaik dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Diantaranya, melalui peningkatan literasi dan inklusi keuangan bagi pelaku usaha.

Bersama mitra kerjanya Komisi XI DPR RI, Misbakhun, dan anggota DPRD Kota Probolinggo, Muhklas Kurniawan, Kamis (5/3/2020), OJK perwakilan Malang, menggelar penyuluhan jasa keuangan dihadapan seratusan pelaku UMKM kota setempat.

Kepala Bagian Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Pasar Modal (PM), dan Edukasi dan Perlindungan Konsumen (EPK), Edy Rachmadi Wibisono menyatakan, penyampaian literasi dan inklusi dimaksud, dapat membantu pelaku UMKM lebih memahami konsep dasar dari produk keuangan. Mulai perencanaan hingga pengelolaan keuangan. “OJK berperan melindungi mereka dari penipuan dan usaha tidak sehat di pasar keuangan,” kata dia.

Dalam agenda literasi dan inklusi kali ini, beberapa poin disampaikan, diantaranya tentang akses permodalan UMKM, asuransi pertanian dan peternakan, serta investasi bodong. Dari sejumlah bahasan, soal akses permodalan mendapat perhatian serius. Tak sedikit dari peserta menanyakan tentang peluang mendapat suntikan modal tanpa agunan atau syarat berbelit dari perbankan.

Menanggapi hal itu, secara umum Edy berpesan, agar debitur lebih rasional dalam menerima tawaran modal dari perbankan. “Dipertimbangkan dengan matang antara manfaat pinjam dana dan resikonya. Untuk pinjaman online pastikan kreditur di bawah pengawasan OJK,” kata dia.

Sementara itu Misbakhun memastikan peningkatan literasi dan inklusi keuangan terhadap UMKM, berdampak masif terhadap pertumbuhan ekonomi mikro. “Penguatan pemerintah terhadap usaha mikro tidak boleh terlewatkan. Ekonomi negeri ini sejak dulu 97 % ditopang UMKM. Selebihnya, saya berharap kedepan ada kemudahan akses kredit bagi pelaku usaha mikro kecil menengah,” ujarnya diamini Muhklas Kurniawan.

Sekedar diketahui, Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) OJK pada tahun ini menunjukkan angka positif. Indeks literasi keuangan mencapai 38,03% dan indeks inklusi keuangan 76,19%. Angka tersebut meningkat dibanding hasil survei OJK 2016 dimana indeks literasi keuangan 29,7% dan indeks inklusi keuangan 67,8%.

Dengan demikian dalam 3 tahun terakhir terdapat peningkatan pemahaman keuangan (literasi) masyarakat sebesar 8,33%, serta peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan (inklusi keuangan) sebesar 8,39%.

Lebih jauh lagi target indeks inklusi keuangan yang dicanangkan pemerintah melalui Perpres Nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) sebesar 75% pada tahun 2019 lalu telah tercapai. [eko/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar