Iklan Banner Sukun
Ekbis

Musim Penghujan, Pengaruhi Kualitas Panenan Tembakau di Ponorogo

Salah satu petani yang akan memanen tanaman tembakaunya. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Turunnya hujan biasanya disambut gembira oleh para petani. Sebab, untuk mengairi padinya mereka bisa memanfaatkan air hujan tersebut. Tentu ini akan mengurangi biaya tanam, karena mereka tidak lagi menggunakan sumur bor untuk pengairannya. Namun, mulai turunnya hujan kali ini tidak disambut baik oleh sebagian petani di Ponorogo. Terutama petani yang sedang menanam tembakau. Di saat panen seperti hari-hari ini, juga disertai guyuran air hujan. Hal itu berpengaruh terhadap kualitas tembakau yang dipanen.

“Pas panen juga pas musim penghujan tiba, kualitas tembakau yang dipanen menjadi turun,” kata Suparlan, petani tembakau asal Desa Tatung Kecamatan Balong, Kamis (4/11/2021).

Turunnya kualitas itu, kata Suparlan juga berpengaruh kepada harga tembakau itu sendiri di pasaran. Jika tembakau dengan kualitas terbaik, dalam kondisi cacah dan kering bisa laku hingga Rp 36 ribu per satu kilogramnya. Namun, jika kualitasnya jelek, pabrik pun tidak akan mau menerimanya. Alhasil, petani terpaksa menjualnya ke pasaran lokal dengan harga jauh dibawahnya, yakni bisa diharga hanya Rp 10 ribu.

“Ya prinsip jual beli, ada kualitas ada harga. Kalau kualitas tembakau turun otomatis harganya murah. Malah-malah kalau kualitasnya jelek, pabrik tidak menerimanya. Akhirnya dijual ke pasar lokal tentu dengan harga yang jauh dari biasanya,” ungkapnya.

Selain mempengaruhi kualitas tembakau, turunnya hujan juga membuat pertumbuhan tembakau menjadi kurang maksimal. Jika potensi panennya bisa mencapai maksimal 5 ton per hektare-nya, guyuran hujan ini bisa menyusutkan hasil panen. Petani bisa-bisa hanya mendapatkan hasil 2 ton per hektare-nya.

“Musim hujan juga mempengaruhi volume hasil panen. Jika di musim kemarau bisa berpotensi maksimal 5 ton per hektare-nya. Kalau sudah dilanda hujan kayak gini, bisa-bisa hanya panen 2 ton saja,” ungkap Parlan sapaan Suparlan.

Kepala Desa Tatung, Rudi Sugiarto menyebut bahwa desanya ini merupakan salah satu sentra tanaman tembakau di Ponorogo. Sedikitnya ada 300 petani yang menanam tembakau di desa yang hanya menempuh waktu 15 menit dari pusat kota tersebut. Menurut Dia, ketika tiba waktu panen, rasa-rasanya tidak ada warga desa yang menganggur. Warga dipekerjakan untuk memetik, menjemur, dan memotong tembakau.

“Proses pengeringan masih dengan cara tradisional yakni dijemur, mengandalkan sinar matahari. Kalau sudah masuk musim penghujan otomatis pengeringan juga kurang maksimal,” ungkap Rudi.

Sebenarnya, kata Rudi pengeringan bisa menggunakan oven, namun itu tentu membutuhkan modal besar dan pasti membebani biaya produksinya. Padahal jika keringnya kurang maksimal, tembakau akan berwarna kemerahan. Beda dengan tembakau kualitas terbaik yang akan berwarna kekuningan. “Potensi terancam merugi ada akibat musim penghujan yang sudah datang di bulan ini. Ya semoga mendapatkan hasil terbaik bagi petani di Desa Tatung,” pungkasnya. (end/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar