Ekbis

Musim Haji Batal, Perajin Songkok di Banyuwangi Ganti Produksi

Face shield buatan perajin Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Dampak pembatalan ibadah haji oleh pemerintah akibat pandemi covid 19, berpengaruh pada perajin songkok di Banyuwangi. Salah satunya di pusat perajin songkok khas bambu di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.

“Selama pandemi covid 19 ini, biasanya pesanan sudah mulai datang sejak awal ramadhan, tapi tahun ini sepi,” kata Untung Hermawan perajin songkok, Selasa (9/6/2020).

Biasanya, kata Untung, saat musim haji jumlah pesanan meningkat. Tapi, kali ini terpaksa banyak yang membatalkan orderan. Akibatnya, sejumlah perajin nyaris merugi, para buruh anyaman juga menganggur.

“Ditambah lagi ada pembatalan ibadah haji, semakin memberatkan kita para perajin songkok di sini. Tidak ada pemasukan, para perajin nganggur termasuk para pembuat anyaman bambu. Kalaupun ada pesanan hanya tinggal 30 persen,” ungkapnya.

Melihat kondisi itu, para perajin kini harus tetap putar otak agar roda ekonomi keluarga terus berjalan. Kali ini, mereka mengalihkan bisnis songkok ke pembuatan alat pelindung diri (APD) berupa face shield atau penutup muka.

“Awalnya kita lihat dari beberapa contoh yang sudah ada. Lalu kita sediakan bahan, bentuk sedemikian rupa hingga menjadi face shield yang diinginkan,” katanya.

Produksi face shield, kata Untung, dari segi bahan sangat berbeda dengan songkok. Karena lebih mengandalkan bahan dari mika atau plastik. Namun, hal ini tak mengurangi kreativitas para perajin.

“Kita tetap sisipkan aksen anyaman bambu pada face shield yang kita produksi. Ini sekaligus memberi jembatan bagi para buruh anyaman agar tetap mendapat penghasilan,” terangnya.

Responnya cukup lumayan. Hingga kini banyak pesanan dari sejumlah instansi, kantor, dan sekolah-sekolah. Mengingat, Banyuwangi akan menerapkan new normal yang mengharuskan tetap mengikuti protokol kesehatan dalam setiap aktivitas.

“Alhamdulillah, setiap hari ada pesanan sekitar 1000 face shield, dari kalangan sekolah, pondok pesantren. Satu buah ini harganya Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu, tegantung ukuran,” pungkasnya. (rin/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar