Iklan Banner Sukun
Ekbis

Minyak Goreng Masih Mahal, Inflasi Kota Malang Tertinggi di Jatim

Minyak goreng di Kota Malang.

Malang (beritajatim.com) – Angka inflasi di Kota Malang tertinggi di Jawa Timur, dengan angka 1,44 persen, sedangan rata-rata di Jatim sebesar 1,05 persen dan inflasi nasional sebesar 0,95 persen. Momen lebaran menjadi salah satu faktor tingginya angka inflasi di Kota Malang.

“Tingginya angka inflasi pada April salah satunya akibat kenaikan harga komoditas minyak goreng sebesar 35,26 persen dengan andil 0,33 persen terhadap inflasi. Minyak goreng masih bertahan menjadi salah satu penyumbang inflasi. Sebenarnya untuk beberapa komoditas penyumbang inflasi di Kota Malang ini hampir sama dengan di Jawa Timur dan nasional,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini, Rabu (11/5/2022).

Penyumbang inflasi lainnya adalah kenaikan harga komoditas BBM sebesar 5,85 persen dengan andil 0,27 persen terhadap inflasi. Kenaikan tarif angkutan udara sebesar 14,16 persen, kenaikan harga daging sapi sebesar 7,41 persen, daging ayam ras sebesar 4,4 persen, kenaikan harga kontrak rumah sebesar 0,7 persen, dan kenaikan harga mobil sebesar 2,41 persen.

“Komoditas kue kering berminyak juga naik sebesar 10,67 persen. Ini dampak dari kenaikan harga minyak goreng. Selanjutnya komoditas lain penyebab inflasi adalah kenaikan harga nasi dengan lauk dan kenaikan harga ayam hidup,” imbuhnya.

Sedangkan penghambat inflasi atau penyebab deflasi ada 10 komoditas karena mengalami penurunan harga. Yakni penurunan harga komoditas cabai rawit sebesar minus 43,91 persen, bawang merah turun minus 11,11 persen, penurunan harga beras minus 0,69 persen, cabai merah minus 15,46 persen, dan udang basah minus 3,23 persen.

“Komoditas lain yang menjadi penghambat inflasi adalah penurunan harga tomat, wortel, brokoli, ikan tuna, dan bandeng yang diawetkan,” ucap Erny.

Sementara berdasarkan kelompok pengeluaran, transportasi menjadi penyumbang terbesar 4,24 persen akibat kenaikan tarif angkutan, kendaraan online, travel, kereta api, dan lainnya. Selanjutnya kelompok makanan minuman dan tembakau dengan andil inflasi 1,2 persen. Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rumah tangga sebesar 0,9 persen. Angka yang sama untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Lalu berikutnya, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya memiliki andil sebesar 0,85 persen. Untuk kelompok perumahan, air, listrik dan bahan baku rumah tangga  memiliki andil 0,35 persen. Sementara untuk kelompok kesehatan berkontribusi sebesar 0,27 persen.

“Sedangkan kelompok pakaian dan alas kaki andilnya sebesar 0,2 persen, kelompok informasi komunikasi dan jasa keuangan memiliki andil 0,06 persen. Untuk kelompok pendidikan tidak memiliki andil atau 0 persen,” tandas Erny. [luc/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar