Ekbis

Wanita-Wanita Tangguh Mencari Gas Alam (Bagian 2-Habis)

Mimpi Ning Ita, Mojokerto Jadi City Gas

Mojokerto (beritajatim.com) – Wanita berperawakan kecil ini punya mimpi yang besar terhadap kota yang ditinggalinya, yakni Kota Mojokerto. Bahwa suatu hari nanti Kota Mojokerto menjadi kota dengan penggunaan gas merata di seluruh Kota Mojokerto. Semua industri mulai dari industri besar bahkan UMKM menggunakan gas alam yang lebih murah.

Ada banyak mimpi untuk city gas Kota Mojokerto yang ingin diraihnya. Kedatangan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan memasang 4.000 sambungan di tahun 2019 ini membuat Ning Ita, panggilan akrab sang Walikota, membuat dirinya semakin terpacu untuk membuat sentra UMKM dan sentra kuliner lebih banyak lagi. Apalagi rencananya di 2020 mendatang Kementerian ESDM pun akan menambah jaringan gas (Jargas) untuk rumah tangga di Kota Mojokerto hingga 6.000 sambungan baru. Semakin gembiralah dirinya, berbagai potensi wisata berbasis gas pun siap dikembangkan di Mojokerto.

“Mimpi besar saya menjadikan Kota Mojokerto menjadi City Gas. Saya ingin tak hanya rumah tangga saja yang punya sambungan jargas tetapi semua sentra UMKM terutama sentra alas kaki serta sentra kuliner di Mojokerto menggunakan Jargas juga,” pintanya saat rombongan PGN mendatangi rumah dinasnya.

Gas alam yang selalu tersedia 24 jam serta lebih murah dan hemat hingga 30 persen menjadi salah satu alasannya meminta agar Kementerian maupun PGN mengabulkan niatannya untuk menjadi Mojokerto sebagai pilot project City Gas.

Bahkan kini Ning Ita pun mulai mengembangkan wisata bahari Kota Mojokerto dengan memanfaatkan aliran Sungai Kotok hingga Sungai Brantas yang bakal diubah perwajahannya menjadi Wisata yang dilengkapi dengan berbagai sarana-prasarana pendukung. Mulai dengan transportasi air, rumah makan apung dan berbagai fasilitas wisata lainnya untuk menarik wisatawan.

“Banyak orang mempertanyakan kenapa wisata bahari, padahal Mojokerto tak punya laut. Tetapi mereka lupa dari Mojokerto inilah kerajaan besar Majapahit menaklukan Nusantara hingga Asean. Di sungai – sungai kecil inilah kapal perang mulai berlayar menuju lautan lepas. Dan saya ingin nanti semua cafe yang ada di sekitar wisata Bahari Mojokerto yang saat ini sudah melalui tahapan grand desain ini, akan dialiri oleh gas alam dari PGN,” harap Ning Ita.

Sementara itu, Sales Representative PGN Wilayah Kota Mojokerto, Endang Sri Rahayu, menyebutkan, pemerintah melalui BPH Migas menargetkan 15.000 pelanggan di Kota Mojokerto yang tersambung dengan jargas PGN. Di tahun 2018 ada 5.000 pelanggan jargas PGN yang sudah terpasang. Sementara di tahun 2019 ini, 4.000 pelanggan akan tersambung. Total hingga akhir 2019 ini, akan ada 9.000 sambungan jargas PGN.

Bak gayung bersambut dengan Walikota-nya, 2 pengusaha wanita tangguh di Kota Mojokerto ini pun sengaja meminta agar menjadi pelanggan komersial dari yang semulanya pelanggan rumah tangga. Kedua wanita tangguh ini adalah Esti Wahyuni, pengusaha roti Bogarasa dan Anik Nurtianah, pengusaha Alas kaki dengan merek dagang Priti.

Esti yang semula mendapat jatah Jargas rumah tangga akhirnya beralih menjadi pelanggan komersil setelah pesanan roti dan catering makanannya bertambah ramai.

“Semula hanya dipakai untuk memasak pesanan catering dari Pemkot Mojokerto, tetapi setelah saya hitung-hitung, jauh lebih murah pakai gas dari PGN ini. Akhirnya saya minta pihak PGN untuk menyambungkan ke panggangan roti saya dan kini saya pun tak repot hari angkat-angkat elpiji 12,5 Kg lagi,” kenang Esti.

Bagi Esti menggunakan gas alam dari PGN tak sekadar karena murahnya, ternyata hasil panggangan roti yang dihasilkan jauh lebih renyah dan mekar lebih besar daripada menggunakan elpiji. Karena suhu panggangan menjadi sangat stabil saat menggunakan gas alam.

“Saat pakai elpiji, roti yang dihasilkan pasti ada yang kurang mekar alias setengah bantat. Karena saat elpiji sudah mulai habis tekanan dan apinya pun ikut berkurang, sehingga mempengaruhi hasil roti kami,” jelas Esti.

Hal yang sama juga diamini oleh Anik Nurtianah, yang memiliki showroom sepatu, tas kulit Priti cukup besar di Kota Mojokerto. Yang baru-baru ini mengalihkan oven listrik untuk menghangatkan sol sepatunya menjadi oven gas. Jika sebelumnya untuk 1 unit oven listrik dirinya harus membayar tagihan hingga Rp 1 juta per bulan. Maka saat mengalihkan energi ovennya menggunakan gas alam, tagihan yang diterima dari PGN sekitar Rp 300 ribu saja.

“Jelas ini sangat menolong kami para pembuat sepatu. Apalagi saat ini pesanan sepatu terus menurun karena ekonomi masih belum juga membaik. Jika tahun lalu sebulan kami bisa menjual hingga 3.000 pasang alas kaki, maka kini tinggal 1.000 pasang saja. Itu pun kami harus melemparnya ke luar Jawa, seperti Sumatera dan Indonesia Timur,” adu Anik yang menjadi penerus usaha keluarganya sejak 9 tahun lalu ini.

Baik, sang Walikota, Ning Ita maupun 2 pengusaha wanita tangguh ini berdoa harga gas alam tetap lebih murah dibandingkan elpiji. Dengan begitu mereka akan mampu bertahan ditengah kuatnya arus persaingan bisnis dan pelambatan ekonomi yang masih membuat mereka harus mengencangkan ikat pinggang dan mengefesienkan biaya produksi demi tetap bertahan menjalankan bisnis mereka. [rea]

Apa Reaksi Anda?

Komentar