Ekbis

Mi Lidi, Jajanan Tradisional yang Bertahan Hingga Kini

Bojonegoro (beritajatim.com) – Bagi kalian yang lahir pada tahun 90-an, Mi Lidi mungkin menjadi jajanan yang tidak asing dan hampir setiap hari dikonsumsi. Namun, jajanan yang rasanya renyah dan pedas itu kini sudah mulai susah dijumpai.

Namun di Bojonegoro masih ada salah satu home industri yang memproduksi jajanan tradisional Mi Lidi. Ibu Suliah, warga Desa Sumuragung, Kecamatan Baureno, mulai memproduksi Mi Lidi sejak 1998 dan masih bertahan hingga kini.

Meski masih bertahan, Suliah mengaku produksinya kini sedang kembang kempis. Jajalan yang berasal dari bahan baku tepung tapioka itu setiap hari bisa diproduksi lebih dari 50 kwintal perhari.

“Jumlah tersebut menurun drastis sejak pnademi Covid-19, padahal sebelumnya bisa produksi hingga lebih dari satu ton,” ujar Suliah, Kamis (10/9/2020).

Suliah mengatakan, Mi Lidi yang diproduksi di rumahnya itu ada tiga varian rasa, yakni rasa manis pedas, manis asam jeruk dan manis asin. Rasa-rasa tersebut berasal dari bahan rempah dan tidak menggunakan bahan pengawet. “Rasa-rasa ini menyesuaikan kondisi jajanan era sekarang, agar diterima pasar,” jelasnya.

Pemasaran jajanan Mi Lidi yang diproduksi Suliah, sudah mulai menembus pasar luar daerah. Seperti misalnya hingga ke Kabupaten Demak, Probolinggo, Madura, dan masih banyak daerah lainnya di wilayah Jawa Timur maupun Jawa Tengah. [lus/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar