Ekbis

Menggantungkan Hidup di Lembaran Kain Batik

Jombang (beritajatim.com) – Seorang perempuan duduk menekur di tengah ruangan. Tangannya terlihat hati-hati memegang canting. Sesekali canting tersebut ditiup perlahan hingga muncul asap tipis bergulung. Setelah itu, ujung canting digoreskan di lembaran kain putih.

Dengan ketelaten, aktivitas tersebut dilakukan berulang-ulang. Semakin lama, kain yang awalnya berwarna putih itu muncul beragam motif. Ada motif daun, ada juga mirip sayap burung. Perpaduannya menimbulkan harmoni yang indah. Itulah lembaran batik tulis yang diproduksi oleh Sutrisno, perajin batik asal Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Jombang.

Sutrisno mempekerjakan 15 anak buah. Di antara mereka adalah para perempuan yang bertugas membuat batik tulis. Yakni, menggoreskan canting yang berisi malam di lembaran kain putih yang sudah terpola dengan gambar. Selain batik tulis, Sutrisno juga memproduksi batik cap.

Walhasil, usaha itu dilakoninya hingga puluhan tahun. Lembaran kain batik itulah yang menjadi penopang ekonomi keluarganya. Meski sempat kedodoran karena pandemi Covid-19, namun usaha milik Sutrino tetap bertahan. “Desa ini (Jatipelem) sudah menjadi sentra perajin batik,” kata Sutrino ketika ditemui di tempat usahanya, Jumat (2/9/2020).

Sutrisno mengatakan, ada tiga jenis batik yang ia produksi. Yakni, batik tulis, batik colet, dan batik cap. Masing-masing jenis memiliki ciri khas dan pasar tersendiri. Untuk batik tulis, tetap menggunakan canting dengan pewarna khusus. Sedangkan, batik colet menggunakan metode gradasi warna.

“Untuk batik cap, kami menggunakan cap khusus dengan motif yang sudah dibuat sebelumnya. Bukan printing. Tetap menggunakan cat jenis yang sama dengan batik tulis,” kata Sutrisno sembari memamerkan sejumlah batik produksinya.

Pria yang sudah menggeluti kerajinan batik selama 20 tahun ini menambahkan, proses pembuatan batik tulis masih menggunakan cara konvensional. Yakni, awalnya dibuat pola di lembaran kain putih. Selanjutnya diwarnai menggunakan canting.

Sedangkan batik colet dan batik cap menggunakan alat cetak khusus berbentuk bujur sangkar. Alat cetak tersebut kemudian ditempelkan pada lembaran kain putih. Usai diwarnai, satu persatu kain tersebut dimasukkan dalam rendaman air.

“Proses ini disebut mlorot. Yaitu, untuk melunturkan cat pada pola. Tahap selanjutnya dilakukan pembilasan kain beberapa kali. Nah, dari situ terbentuklah gradasi warna yang jelas. Proses terakhir adalah menjemur kain di bawah terik matahari,” urainya.

Untuk menarik konsumen, Sutrisno menciptakan sejumlah motif yang khas. Di antaranya, motif wono sekar, jati glondong, kopi ekselsa Wonosalam, Asean, Candri Ngrimbi, serta motif Ringin Contong. Walhasil, upaya tersebut berbuah manis.

Sejumlah konsumen menyukainya. Batik prosuksi Sutrisno pun laris manis di pasaran. Selain dari Jombang, pelanggannya juga sampai luar kota, bahkan luar pulau. Di antaranya sebagian kota di Jawa Barat, Kalimantan, Bali, serta Lampung.

“Namun selama pandemi ini kami mengalami penurunan permintaan. Konsumen didominasi dari lokal Jombang. Utamanya kantor pemerintah dan swasta,” ujar Sutrisno yang juga memahami bahwa 2 Oktober merupakan peringatan Hari Batik Nasional. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar