Ekbis

Mengenal Jeruk Dekopon yang Jadi Primadona di Banyuwangi, Seperti Apa?

Banyuwangi (beritajatim.com) – Sejak lama Banyuwangi dikenal dengan potensi pertanian yang unggul. Terlebih di bidang jenis tanaman buah. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga terkenal sebagai penghasil buah-buahan terbesar. Ada sejumlah hasil buah yang menjadi sumber penghasilan petani di daerah ini. Misalnya, jeruk, buah naga, jambu kristal, manggis hingga durian. Yang terbaru dan menjadi primadona yaitu munculnya jenis buah jeruk bernama ‘dekopon’. Seperti apa jeruk ini?

Tampaknya, memang masih asing di telinga warga pada umumnya. Tapi, tidak bagi warga Jepang sebagai asalmu asal jenis tanaman tersebut. Ya, jeruk dekopon memang baru di Banyuwangi. Kini, makin banyak yang menggandrungi lantaran harganya yang menggiurkan.

“Untuk harga dari petani Rp. 50 ribu per kilogram. Permintaannya pun tinggi. Saya memenuhi permintaan sejumlah langganan dari Jakarta, Surabaya dan sejumlah kota lainnya,” ujar Sujarwo, petani asal Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Selada (26/1/2021).

Jenis jeruk ini, kata Sujarwo, masa pertumbuhannya tak ubahnya dengan jenis jeruk manis atau jeruk siam pada umumnya. Tapi, bedanya dari sisi produktivitas.

“Jeruk ini berbuah tidak berdasarkan musim seperti jeruk Siam pada umumnya. Ini bisa berbuah sepanjang masa. Asalkan perawatannya dilakukan dengan baik. Produktivitasnya bisa mencapai 50-80 kilogram per pohon dalam satu tahun,” ungkap Sujarwo yang memiliki lahan seluas 2,5 hektar tersebut.

Kondisi lahan di Banyuwangi cocok untuk pengembangan jeruk Dekopon. Apalagi, banyak petani khususnya di wilayah selatan yang memang sudah pengalaman merawat tanaman jeruk. “Perawatannya juga cukup mudah. Sama dengan jeruk lainnya,” kata Kepala Dinas Pertanian Arief Setiawan.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi inovasi para petani. Banyaknya varietas jenis tanaman semakin banyak alternatif yang dapat dikembangkan.

“Inovasi ini perlu kita dukung. Bagaimana para petani bisa mengambangkan aneka varietas tanaman yang memiliki nilai jual tinggi,” ungkap Anas sembari meminta Dinas Pertanian untuk lebih intensif mendampingi para petani jeruk tersebut.

Anas menyebutkan, saat ini Pemkab Banyuwangi juga telah memberikan subsidi pupuk organik gratis untuk 400 hektare per kecamatan untuk tanaman pangan, dan ratusan hektare per kecamatan untuk tanaman hortikultura. Program ini juga telah berlangsung pada 2020.

“Dengan pemberian pupuk organik gratis ini, kami harap dapat membantu kebutuhan pupuk petani. Ini ke depan bantuan pupuk juga harus dinikmati petani jeruk di daerah Tegaldlimo ini,” pungkasnya. (rin/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar