Ekbis

Menelisik Lebih Dekat 3 KMP yang Beroperasi di Pelabuhan ASDP Paciran Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Pelabuhan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) merupakan Pelabuhan yang memenuhi standar pelayaran Nasional maupun Internasional. Lokasinya yang berada di Desa Tunggul, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini dinilai sangat baik karena memiliki lokasi dan posisi yang memenuhi syarat sebagai pelabuhan penumpang.

Pelabuhan ini dibangun di atas tanah seluas 5 (lima) Ha, dengan menggunakan analisis yang matang dan professional. Secara resmi telah dioperasikan secara perdana pada 29 April 2013 lalu, 1secara simbolis ditandai dengan penyiraman air kembang ke badan Kapal Motor Penumpang oleh Wamenhub Bambang Susantono bersama Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Bupati Lamongan H Fadeli saat itu.

Saat ini, mengenai operasionalnya, Pihak ASDP telah menyiapkan 3 armada Kapal Motor Penyebrangan (KMP) guna melayani penyebrangan antar Pelabuhan. “Ada 3 KMP di Pelabuhan ini yang beroperasi, yakni KMP Gili Iyang, KMP Drajat Paciran, dan KMP Dharma Kencana,” ungkap M. Askur, Bagian Operasional Pelabuhan ASDP Paciran Lamongan, Kamis (27/5/2021).

Pertama, KMP Gili Iyang, merupakan kapal milik PT. ASDP, salah satu Badan Usaha Miliki Negara (BUMN). Kapal ini berjenis Kapal Roro yaitu jenis kapal penyebrangan yang bisa memuat kendaraan. Ia memiliki panjang 48.91 meter, lebar 14.00 meter, dalam/drift 3.8 meter, dan berbobot GT 1029. Gili Iyang ini dibuat pada tahun 2013 oleh PT. Adiluhung dengan kapasitas 203 penumpang, 25 kendaraan Campuran dan 21 orang ABK.

“KMP Gili Iyang ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya nyaman saat digunakan untuk berlayar, dengan fasilitas yang mewah, termasuk tempat tidur berkonsep Tatami, sangat rekomended bagi penumpang yang ingin beristirahat selama pelayaran,” terang M. Askur kepada beritajatim.com

KMP tersebut, terjadwal melakukan pelayaran pada hari Rabu pukul 21.00 Wib untuk Paciran – Bawean, Kamis pukul 09.00 Wb untuk Bawean – Gresik, Jumat pukul 09.00 Wib untuk Gresik – Bawean, dan Sabtu pukul 21.00 Wib untuk Bawean – Paciran. Selain itu, bagi pengguna jasa KMP, akan dimanjakan dengan pemandangan laut yang indah saat melintasi rute Paciran – Bawean, pulang-pergi (PP). Lama perjalanannya kurang lebih 8 – 9 jam.

Harga tiketnya, untuk dewasa: Rp 76.000, Anak-anak Rp 59.000. 1 penumpang + Motor Rp. 95.000. Diketahui, Kapal Gili Iyang ini tidak menjual tiket kapal melalui agen. Tiketnya bisa dibeli langsung di dermaga pelabuhan, biasanya dengan membawa foto copy (fc) KTP, fc surat kendaraan, dan surat keterangan sehat dari puskesmas setempat.

Selanjutnya yang kedua, ada KMP Drajat Paciran. Kapal ini berjenis Fery Roro yang memiliki panjang 80.22 meter, lebar 15.20 meter, dalam/draft 5.10 meter dengan bobot GT 2940. Usianya lebih muda 2 tahun jika dibanding KMP Gili Iyang, dibuat pada tahun 2015. Memiliki kapasitas 300 penumpang 20 kendaraan campuran, dan 23 orang ABK.

KMP Drajat Paciran juga dibekali beberapa sudut jendela yang menarik untuk melihat panorama lautan yang indah, ruang penumpangnya full AC, terdapat juga ruang Tatami, Car Deck. Bahkan, KMP ini terlihat spesial dengan adanya fasilitas Cafetaria dan Live musik. Memiliki kelebihan dalam hal kecepatan, yakni 15 Knot. Dianggap menjadi kapal terbesar kedua yang diproduksi anak negeri. “Kapal ini sangat strategis untuk melayani masyarakat lintasan Lamongan – Kalimantan Tengah. Karena designnya disesuaikan dengan kondisi Laut Jawa,” ujar pria kelahiran Sidoarjo tersebut.

Sementara itu, kapal ini juga punya rekam jejak yang baik, pernah dikerahkan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) sebagai salah satu kapal alternatif transportasi dan membantu proses penanganan pascagempa bantuan logistik. Bentuk dukungan aksi peduli kemanusiaan yang dilakukan pada bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda kota Palu, Donggala, dan sekitarnya.

Lebih dalam, KMP ini digunakan sebagai penyedia angkutan gratis bagi masyarakat, lembaga, BUMN, maupun Komunitas yang akan mengirimkan bantuan bencana bagi saudara-saudara yang terdampak di Sulawesi Tengah.

KMP Drajat Paciran, lanjut Askur, beroperasi dengan jadwal pelayaran di antaranya pada tiap hari Sabtu untuk Paciran – Bahaur Kalimantan Tengah (Kalteng), dan pada hari Senin untuk Bahaur Kalteng – Paciran. Kendati demikian, jam pelayaran kadang tidak bisa dipastikan, karena menyesuaikan pasang surut di Muara Kahayang, Kalteng.

Terakhir, yang ketiga adalah KMP Dharma Kencana, KMP ini dibuat di Jepang pada tahun 1988, usianya lebih tua jika dibandingkan dua KM sebelumnya, berjenis Roro Passenger yang bisa berlayar di lintasan panjang. Panjang Kapal ini 8,88 meter, lebar 18,8 meter, dan dalam 5,80 meter. Juga memiliki mesin utama 4 sets dan mesin bantu 2 sets, dengan kapasitas 850 penumpang 22 kendaraan campuran dan 52 kru.

Terkait dengan ijin pengoperasiannya, KM Dharma kencana sudah mengantonginya pada tahun 2009 dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kapal ini dilengkapi fasilitas seluruh ruangan yang ber-AC, ruang tidur serta tempat duduk recleaning seat.

Selain itu, Askur menambahkan, kapal ini juga dilengkapi musholla, ruang medis beserta tenaga medis selama pelayaran serta menjamin keselamatan pengguna jasa dengan standar internasional (SOLAS & IMO). Semua fasilitas di atas tersebut tidak perlu membayar biaya tambahan lagi.

“KMP Dharma Kencama melayani jalur keperintisan rute Pelabuhan Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ke Pelabuhan Garongkong, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, PP (pulang pergi). Dengan jarak tempuh sekitar 40 hingga 48 jam,” tambahnya saat diwawancarai.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Pelabuhan Paciran ini dapat dibuat bersandar oleh kapal besar yang mempunyai bobot maksimal 8 ribu Gross Registered Tonnage (GRT). Dibangun dengan klasifikasi kelas I dan mempunyai kedalaman mencapai minus 8 meter air pasang terendah atau (LWS).

Dalam keterangannya, Askur berharap, pelabuhan ini mampu menjadi stimulus dan menjadi peluang besar bagi wilayah Jatim khususnya Lamongan, sebab akan meningkatkan perdagangan antar pulau hingga antar negara.

“Dengan perbaikan infrastruktur perhubungan yang terbangun, kami berharap bisa menjadi pemicu dan pemacu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Menambah berkah yang berlimpah dan perekonomian rakyat yang berdomisili di sekitar pelabuhan menjadi meningkat dan makmur,” harapnya.

Selama pandemi, di pelabuhan ini tetap diberlakukan protokol kesehatan yang ketat sesuai peraturan yang berlaku, baik bagi penyelenggara/pengelola, pekerja, maupun penumpang/pengunjung. Senantiasa menjaga keamanan dan kesehatan, yaitu memperhatikan higienitas, sanitasi lingkungan, sarana cuci tangan, jaga jarak, kontak, dan ketentuan kesehatan lainnya.[riq/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar