Ekbis

Mendag Yakin Tahun Politik Tidak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Enggartiasto Lukita mengatakan, meski masuk tahun politik, dipastikan ekonomi Indonesia, termasuk perdagangan tidak akan terpengaruh.

“2019 adalah tahun pesta demokrasi, maka tentu suasananya lebih gembira. Beberapa oknum melancarkan kekhawatiran yang berlebihan itu adalah tidak sehat di era demokrasi. Karena fundamental ekonomi kita saat ini sangat baik,” kata Enggartiasto Lukita saat Bincang Bisnis dengan tema “Optimisme Perdagangan dan Ekonomi 2019 di Spazio Hall Surabaya, Selasa (26/2).

Menurut Mendag, yang harus dilakukan masyarakat adalah menjalankan bisnis. “Anda perlu sesuatu, kasih tahu kami, akan kami bantu, akan kami layani, karena tugas pemerintah adalah pelayan masyarakat,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pada tahun 2018, kinerja perdagangan Indonesia memang diuji. Kondisi ini ditengarai akibat melemahnya ekonomi global yang disebabkan dua kebijakan, yaitu Brexit dan perang dagang antara Amerika dengan Tiongkok atau China.

“Pada 2018, kita merasakan pelemahan ekonomi dunia, daya beli negara lain terhadap produk melemah. Hal ini juga dirasakan oleh Indonesia. Pada tahun 2017, ekspor kita mencapai US$ 168,73 miliar, meningkat 16,22 persen dibanding tahun 2016. Sementara pada 2018, nilai ekspor Indonesia mencapai US$180,06 miliar atau hanya meningkat 6,65 persen dibanding periode yang sama tahun 2017. Artinya ada perlambatan pertumbuhan,” terangnya.

Dampak selanjutnya, defisit kian melebar. Nilai impor kumulatif Januari–Desember 2018 mencapai US$188.625,6 juta atau meningkat 20,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Tetapi ini jangan terlalu dirisaukan, jangan terlalu dikhawatirkan karena defisit disebabkan oleh peningkatan impor barang modal dan barang baku. Yg korelasinya adalah untuk pembangunan infrastruktur dan produksi,” tegasnya.

Untuk itulah, dalam roadmap yang dibuat, Mendag mendorong industri barang modal dan bahan baku untuk melakukan substitusi bahan impor ke dalam negeri atau lokal melalui aturan TKDN.  “Karenanya, industri manufaktur akan kami dorong, baik untuk domestik konsumsi dan ekspor maka ketergantungan impor  akan naik,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga mengaku amat tidak setuju dengan adanya perang dagang. Karena pada dasarnya,  dengan menaikkan tarif, maka pada satu titik akan merugikan negara itu sendiri. Inflasi naik, konsumen dirugikan.

“Dan Indonesia dalam posisi menegaskan bahwa perang dagang harus dihindari. Karena baik tariff barrier maupun non tarif barrier itu tidak baik. Sama saja kita perang, antara satu toko dengan toko lain, itu juga tdk sehat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey mengatakan, beberapa indikator menunjukkan ekonomi Indonesia  cukup bagus, mulai dari stabilnya harga di pasar hingga tingginya indeks kepercayaan konsumen.

Tahun ini, keyakinan konsumen terhadap minat beli produk semakin baik dibanding tahun sebelumnya. Tingkat kemiskinan turun. Sehingga kemampuan daya beli masyarakat semakin tinggi. Income per kapita juga naik, menjadi US$ 4 ribu per kapita per orang.

” Jadi tidak ada alasan untuk khawatir. Apapun situasi dan kondisinya, harus tetap optimis dan terus berpikiran maju,” tegas Roy Nicholas. (ted/kominfo)

Apa Reaksi Anda?

Komentar