Ekbis

Memasuki Musim Tanam Pupuk Indonesia Ingatkan Pupuk Bersubsidi Palsu

Gresik (beritajatim.com) – Memasuki musim tanam, PT Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen untuk menjaga kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi sampai ke tangan petani sesuai dengan prinsip 6T. Yakni, tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu dan tepat mutu.

Kendati demikian, Pupuk Indonesia (PI) mengingatkan beredarnya pupuk bersubsidi palsu. Sebagai strateginya, PI telah memiliki ciri tersendiri untuk menentukan apakah pupuk tersebut palsu atau tidak.

Kepala Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia (persero) Wijaya Laksana mengatakan, ada ciri tersendiri yang ditentukan terkait dengan pupuk bersubsidi. “Ciri pupuk bersubsidi yang asli warnanya cukup mencolok serta ada bag code agar penyalurannya kepada petani yang terdaftar dalam e-RDKK,” katanya, Kamis (9/07/2020).

Warna pupuk bersubsidi juga ditentukan. Misalnya, jenis Pupuk Urea diberi ciri dengan warna merah muda atau pink. Sedangkan pupuk subsidi jenis ZA diberi warna oranye. Perbedaan warna ini bertujuan membedakan antara pupuk bersubsidi, dan non subsidi sehingga dapat meniminalisir peluang penyelewengan.

“Pupuk bersubsidi juga memiliki ciri pada kemasan karungnya. Terdapat tampilan logo Pupuk Indonesia di bagian depan karung dan bertuliskan ‘Pupuk Bersubsidi Pemerintah’. Pada kemasan tercantum juga nomor call center, logo SNI, nomor izin edar pada bagian depan karung dan memiliki bag code dari produsennya,” ujar Laksana Wijaya.

Ia menambahkan, penyaluran pupuk bersubsidi dilakukan secara tertutup, sesuai alokasi, dan hanya kepada para petani yang terdaftar dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) yang dikelolah Kementerian Pertanian.

“Kami selalu mematuhi semua aturan penugasan penyaluran pupuk bersubsidi yang berlaku sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 15/M-DAG/PER/4/2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian,” imbuhnya.

Penyaluran pupuk bersubsidi secara nasional dimulai dari Lini I sampai dengan Lini IV yang diatur dalam Permentab nomor 01 Tahun 2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun anggaran 2020, Juncto Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2020. “Kedua aturan tersebut sudah dengan tegas mengatur tentang syarat, tugas, dan tanggungjawab dari produsen, distributor, dan penyalur atau pengecer hingga HET pupuk bersubsidi,” tandas Laksana Wijaya. [dny/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar