Ekbis

Lebih Produktif dari Orang Normal

Melongok Cara Kerja Buruh Difabel di Pabrik Rokok Cakra

Malang (beritajatim.com) – Sejak awal Agustus 2020 ini, Pabrik Rokok Cakra di Jalan Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, sudah mempekerjakan puluhan pegawai Difabel.

Dari 25 orang pekerja Difabel tersebut, kini menyisakan 12 orang saja. Mayoritas adalah penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Hanya satu orang yang mengalami tuna daksa. “Dari 25 orang pekerja difabel ini yang bertahan tinggal 12 orang. Mayoritas mereka bisu dan tuli. Tapi kinerja mereka sangat baik,” ungkap Kepala HRD Pabrik Rokok Cakra, Rika Lestari, Selasa (4/8/2020) siang.

Dari 25 orang Difabel yang pernah diterima kerja, seiring berjalannya waktu ada yang mundur. “Ada yang mundur atau keluar, mungkin minder atau bagaimana ya, tapi yang bertahan juga banyak. Kami hari ini juga masih menerima pekerja Difabel. Syaratnya yang penting mau bekerja dan usia tidak lebih dari 35 tahun,” kata Rika.

Rika menuturkan, yang masih bertahan cukup lama sampai hari ini adalah mereka yang menyandang bisu dan tuli. “Yang masih bertahan mereka rata-rata bisu dan tuli. Secara mental mereka ini lebih kuat ya. Dan produktifitas mereka dalam bekerja ini melebihi orang yang normal,” tegas Rika.

12 orang penyandang Difabel, ditempatkan pada bagian Sigarete Kretek Mesin (SKM) bagian pengebalan. Atau mengemas hasil rokok menggunakan kertas karton dan kardus. Kata Rika, para Difabel ini harus ada penanganan khusus. Termasuk ruang kerja mereka, harus disesuaikan dengan kondisinya.

“Produktifitas mereka ini sangat tinggi ya. Mungkin karena tidak pakai ngobrol seperti orang normal, sehingga bekerjanya cepat. Pokoknya kerja terus, mereka kita tempatkan dibagian ngebal,” papar Rika.

Sama seperti pekerja normal, lanjut Rika, pekerja difabel juga mempunyai hak yang sama. “BPJS ketenagakerjaan dan kesehatan seluruhnya mereka dapat. Jam kerja juga sama, per satu sif jam kerja mereka 8 jam. Hak-hak para difabel juga sama seperti orang normal. Termasuk upah mereka juga sesuai UMK Kabupaten Malang,” tegas Rika.

Rika menambahkan, pekerja Difabel hanya butuh perlakuan khusus seperti jenis pekerjaannya dan tempat mereka bekerja, harus berbeda dengan orang normal. “Pekerja Difabel kita letakkan pada satu tempat yang aman dan nyaman, kita hindari ruang kerja mereka agar tidak banyak orang maupun kendaraan yang lalu-lalang. Karena mereka ini kan bisa dan tuli. Jadi perlakukan khususnya seperti itu,” kata Rika.

Bupati Malang HM Sanusi berkesempatan menemui langsung 12 orang pekerja Difabel Pabrik Rokok Cakra. Memakai bahasa isyarat, Sanusi coba mengobrol dengan mereka. Sekilas, perawakan buruh Difabel ini tidak berbeda dengan orang normal. Hanya saja, saat berkomunikasi dengan sesama rekan kerjanya, bahasa isyarat seperti gerakan tangan mata, banyak dilakukan untuk memahami situasi sekitar.

Bupati Malang kemudian mengajak foto bersama. Kata Sanusi, etos kerja dan produktifitas pegawai Difabel sehari-hari patut diacungi jempol. “Pabrik rokok Cakra ini luar biasa ya. Sudah mempekerjakan Difabel. Sekarang mereka malah membuka lowongan lagi bagi pekerja Difabel, butuh 5 sampai 10 orang lagi,” terangnya.

Sanusi menambahkan, dalam hal produktifitas kerja, penyandang Difabel tidak kalah dengan orang normal. “Kami sudah menghimbau perusahaan di Kabupaten Malang, untuk tidak membedakan. Hak-hak para Difabel ini harus sama dengan orang normal.

“Semua perusahaan harus menerima pekerja Difabel tanpa membedakan kekurangan fisiknya. Pabrik rokok Cakra ini bisa menjadi contoh yang baik bagi perusahaan dimanapun,” Sanusi mengakhiri. (yog/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar