Iklan Banner Sukun
Ekbis

MBI Bersama ITS dan Yayasan Esa Khatulistiwa Sosialisasikan Potensi Pengembangan Sorgum di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu daerah yang menjadi lumbung pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan jumlah hari hujan di Mojokerto menyebabkan penurunan luas panen padi sekitar 3,2 persen sejak 10 tahun terakhir.

Selain itu, krisis global yang tengah berlangsung menyebabkan minimnya stok bahan pangan impor seperti gandum. Sorgum, sagu dan singkong sebagai substitusi pengganti gandum yang tengah krisis stok akibat perang Rusia dan Ukraina.

Saat ini pemerintah tengah mendorong kapasitas luasan lahan untuk penanaman tumbuhan-tumbuhan tersebut. Sejak Oktober 2021, Yayasan Esa Khatulistiwa bermitra dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan PT Multi Bintang Indonesia Tbk.


Kerja sama tersebut untuk melakukan ujicoba pengembangan budidaya tanaman sorgum di Mojokerto. Hal ini sebagai upaya intensifikasi dan diversifikasi komoditas pangan guna menjaga stabilitas pangan nasional. Sorgum menjadi tanaman yang dipilih karena dapat diusahakan pada lahan kering.

Selain itu, sorgum juga memiliki potensi untuk mensubstitusi peranan beras sebagai bahan pangan pokok atau mensubstitusi peranan tepung terigu atau tepung gandum sebagai bahan baku produk makanan olahan. Untuk itu, Yayasan Esa Khatulistiwa bekerja sama dengan ITS Surabaya dan PT MBI Tbk menggelar sarasehan.

Sarasehan antara pemerintah daerah, peneliti, pengusaha, dan petani ini digelar di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Hal ini untuk mensosialisasikan potensi pengembangan sorgum sebagai solusi alternatif untuk intensifikasi produksi tanaman pangan di lahan-lahan kering atau marjinal di Mojokerto.

Direktur Hubungan Korporasi PT MBI Tbk, Ika Noviera, terkait keberlanjutan lingkungan, Multi Bintang Indonesia tidak hanya berbicara mengenai pelestarian alamnya saja, melainkan keterlibatan masyarakat sekitarnya. “Kami melihat program pengembangan sorgum memiliki potensi besar sebagai solusi kreatif dan inovatif,” ungkapnya, Selasa (30/8/2022).

Yakni untuk mengoptimalkan sumber daya dan melibatkan komunitas lokal dalam upaya peningkatan stabilitas pangan dan penyelamatan keaneragaman hayati. Sepanjang 2021-2022, kemitraan ini sudah berhasil melakukan ujicoba dengan empat jenis

“Varietas sorgum, yaitu KD4, Numbu, Kawali dan Bioguma di lahan seluas 2,5 Ha di Kecamatan Trawas, Ngoro, Dawarblandong, Jatirejo dan Kemlagi. Program ini masih memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan, di mana lahan kering di Mojokerto masih cukup luas, yakni sekitar 18 ribu Ha,” katanya.

Dosen ITS Surabaya Departemen Biologi, ukhammad Muryono, Ph.D mengatakan, tanaman sorgum dipilih karena beberapa keunggulan yang dimiliknya. “Diantaranya kemampuan sorgum beradaptasi di lahan kering, di mana tanaman lain seperti jagung dan kedelai tidak bisa tumbuh,” ujarnya.

Jika dilakukan dengan dengan prosedur yang benar, tanaman sorgum bisa dipanen hingga sebanyak tiga kali dalam satu kali penanaman sehingga bisa jadi cukup profitable bagi petani.

Sementara itu, Manager Program Yayasan Esa Khatulistiwa, Sriyanto menambahkan, konsolidasi antar stakeholder perlu dibangun agar tanaman sorgum bisa menjadi salah satu komoditas yang dapat dikembangkan dan bernilai ekonomi yang berkelanjutan bagi petani lokal di Mojokerto.

“Kami berharap dengan adanya sarasehan ini, budidaya sorgum dapat dikembangkan dengan lebih intensif melalui pembinaan teknologi budidaya hingga pasca panen, pengembangan jaringan pasar, dan terciptanya regulasi pemerintah daerah yang mendukung,” tutupnya.

Dalan sarasehan dengan tema ‘Ketahanan Pangan dan Keanekaragaman Hayati Sorgum’ tersebut, juga digelar seremoni panen perdana budidaya sorgum. Sarasehan dihadiri oleh sekitar 50 orang dari beberapa perwakilan pemangku kepentingan di Mojokerto.

Antara lain Dewan Pimpinan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto, akademisi, Aliansi Air dan organsasi lingkungan, serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang terlibat di Mojokerto. [tin/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev