Ekbis

Masih Banyak Warga Jadi Korban Pinjaman Online

Sidoarjo (beritajatim.com) – Yayasan Indonesia Wahana Narasi (WaNI) memberikan sosialisasi pada warga mengenai pengajuan pinjaman online yang legal di desa Tambakrejo Kec Waru, Selasa (24/11/2020). Sosialisasi digelar karena masih maraknya warga masyarakat yang jadi korban pinjaman online.

Ketua Yayasan WaNI, Ade menyampaikan pentingnya acara ini dibuat agar tidak semakin banyak warga yang terjebak pada pinjaman online illegal.

“Bersama dengan tim rumah aspirasi Indah Kurnia yang anggota Komisi XI DPR RI, acara ini mengedukasi masyarakat selama masa pandemi Covid-19 agar tidak terjebak pinjaman online ilegal,” ujar Ade.

Salah satu anggota tim rumah aspirasi Indah Kurnia, Vicky menjelaskan bahwa salah satu cara sederhana untuk mengidentifikasi aplikasi pinjaman online yang legal adalah menampilkan logo OJK pada aplikasi dan saat menginstal aplikasi tidak meminta persetujuan untuk mengakses kontak dan ID.

Terpisah, anggota Komisi XI DPR RI, Indah Kurnia mengakui, di masa pandemi Covid-19, banyak pola hidup, pola pikir dan pola kerja masyarakat bergeser. Salah satu yang ditempuh masyarakat saat ini adalah transaksi dengan digital atau secara online.

Tentu dalam soal transaksi finansial, harus disikapi dengan kehati-hatian. Terutama yang marak saat ini adalah marak promosi via Short Message Service (SMS), pinjaman online dengan iming-iming syarat mudah dan gampang terealisasi.

“Masyarakat harus bijak, apalagi sampai soal pinjaman online. Banyak masyarakat yang mengeluh soal bunga pinjaman diatas kewajaran dan tidak rasional,” terangnya.

Indah Kurnia meminta masyarakat bijak menghadapi maraknya pinjaman online yang ditawarkan melalui
aplikasi atau Finansial Teknologi (Fintek) selama masa pandemi ini.

Aplikasi pinjaman online karena ada yang tidak terdaftar di OJK sehingga Fintek tersebut tidak terdeteksi. Karena tidak terdaftar di OJK, susah mengatur pihak kreditur, dalam hal ini pemilik aplikasi pinjaman online.

Karena itu bersama OJK, pihaknya ikut berupaya memberikan edukasi yang massif kepada masyarakat. Tujuannya masyarakat lebih sadar dan bijak menghadapi maraknya produk keuangan melalui aplikasi online atau Fintek ini.

“Kalau menempatkan (menyimpan) uang di bank resmi. Kalau meminjam uang juga di tempat yang resmi dan yang sudah dilegalkan oleh OJK, begitu juga kalau membelanjakan uang selama pandemi ini harus memprioritaskan yang paling perlu saja, jangan konsumtif,” pinta politisi PDIP asal Dapil Surabaya-Sidoarjo itu.

Indah Kurnia juga berpesan kepada masyarakat, di masa pandemi Covid-19 seperti ini, masyarakat harus pintar dalam mengelola keuangan. Jangan terlalu konsumtif dengan sesuatu yang tidak penting atau yang tak dibutuhkan.

“Bisa dihindari pola konsumtif terhadap sesuatu yang tidak penting. Perioritaskan kepada kebutuhan yang diperlukan atau pokok dalam kehidupan,” anjurnya.

Ia juga berharap di masa situasi seperti ini, bisa mungkin melakukan usaha yang sekiranya menjadi kebutuhan masyarakat. “Semua yang dikeluarkan paling tidak bisa mendatangkan hasil dari segi ekonomi atau bisa kembali diproduktifkan,” imbuhnya.

Pihak OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pada Oktober ini Satgas kembali menemukan dan memblokir 206 fintech lending ilegal dan 154 entitas yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat. Satgas sejak tahun 2018 s.d. Oktober 2020 telah menghentikan sebanyak 2923 fintech lending ilegal. [isa/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar