Ekbis

Mak Yah ‘Sang Ratu Talas’ Pasok Bahan Baku ke Perusahaan Raffi Ahmad

Surabaya (beritajatim.com) – Tangannya masih cekatan menarik tanaman talas berukuran besar yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Di tangan wanita berusia 53 tahun itu, ubi talas atau kerap disebut ‘mbote’ mampu disulap menjadi ladang bisnis yang menjanjikan dengan omzet miliaran rupiah.

Mak Yah sang ratu talas, begitulah orang-orang memanggilnya. Namanya sudah kondang sebagai pebisnis talas yang sukses.

Wanita yang tinggal di kaki gunung Semeru, Senduro Lumajang itu merintis usahanya sejak tahun 2000-an. Berkat kegigihannya, saat ini ia menjadi pemasok bahan baku talas di perusahaan-perusahaan ternama termasuk menjadi supplier usaha makanan milik Raffi Ahmad.

“Saya memasok ke pabrik-pabrik besar seperti Kusuka, produk Chipstaro sama Nagitoz milik Raffi itu juga dari saya bahan bakunya. Dari tahun 2016 sampai sekarang masih. Saya ke Jakarta tiga hari mengajari tim Raffi itu,” ungkap mak Yah saat ditemui di kediamannya, Selasa (11/8).

Tak tanggung-tanggung, kebun talas miliknya sudah tersebar di tujuh kabupaten. Beberapa di antaranya Lumajang, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, dan Bondowoso.

Dibantu 80 karyawannya, Mak Yah mampu menghabiskan satu ton talas untuk membuat keripik talas. Untuk pengiriman bahan baku, ia mampu memasok hingga tujuh ton per hari.

“Kalau untuk pengiriman bahan baku sebelum corona bisa sampai 7 ton per harinya. Sekarang menurun 30%,” tutur pemilik nama asli Siti Khoiriyah itu.

Meski demikian, ia bersyukur pesanan keripik talasnya masih tetap banyak. Di bidang keripik talas, bisa dibilang ia seorang pelopor.

Mak Yah berhasil membuat keripik talas dengan cita rasa tinggi. Ajaibnya, ia bisa menjinakkan rasa gatal pada talas tanpa campuran bahan kimia.

“Lainnya tidak bisa. Kalau saya alami, tanpa pakai bahan kimia karena anak saya juga doyan,” ujarnya.

Ilmu mengolah talas itu, lanjutnya, ia dapat dari hasil usahanya sendiri setelah berkali-kali mencoba.

“Saya belajar sendiri. Jadi saya coba kayak ini hasilnya bagaimana, kalau ini bagaimana. Ternyata hasil yang bagus itu tanpa ada campuran apapun. Tanpa pewarna, tanpa pengawet. Jadi Gempal, gerakan kembali ke tangan warga lokal,” terangnya.

Kesuksesan yang diraihnya tidak serta merta datang begitu saja. Ia memegang prinsip hidupnya kuat-kuat.

“Orang pinter itu banyak yang digagas. Kalau orang bodoh, pekerjaan satu ditekuni sampai berhasil. Saya memilih jadi orang bodoh,” tegasnya.

Terbukti, ia telah mendapat lima penghargaan nasional. Beberapa di antaranya penghargaan Wanita Inspiratif Indonesia, penghargaan Tokoh Hutan Sosial hingga penghargaan Kalpataru.

Mak Yah juga menyebut keinginannya untuk mengangkat produk lokal di mata dunia melalui usaha talasnya tersebut.

“Di Lumajang banyak pertanian talas. Sebetulnya saya ingin komoditi talas maju. Jadi penghasilan masyarakat bertambah. Dan memang tujuan saya memperkenalan produk lokal ini masuk ke luar negeri,” pungkas Mak Yah. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar