Ekbis

Maja, Buah Pahit Asal Usul Kerajaan Majapahit Kaya Manfaat Kesehatan

Pohon maja banyak ditemukan di situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Pohon maja yang memiliki nama latin Aegle Marmelos. Buah dengan rasa pahit konon merupakan asal usul Kerajaan Majapahit. Dari cerita yang ada, ketika Raden Wijaya memimpin saat itu meminta para pengikutnya untuk melakukan babat alas-membuka lahan baru untuk didirikan bangunan atau kerajaan.

Secara tidak sengaja, ada satu pohon yang berbuah lebat. Mereka pun penasaran dan akhirnya mencoba memakan buah tersebut. Siapa sangka jika rasanya sangat pahit, dari sinilah kerajaan tersebut dinamakan Majapahit. Buah maja memiliki ciri khas kulit berwarna hijau, masih banyak ditemui di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pohon maja banyak ditemukan di situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Hampir di setiap situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto tumbuh pohon dengan isi buah berwarna jingga atau kuning ini. Saat dibelah, akan tercium aroma harum. Ukurannya sebesar bola voli dengan kulit yang sangat keras.

 

Karena rasanya yang sangat pahit, buah maja jarang sekali dikonsumsi langsung seperti buah-buahan pada umumnya. Pohonnya yang besar dan rindang membuat beberapa orang masih menanamnya untuk membuat lingkungan jadi rimbun. Buahnya hanya dibiarkan mengering di pohon dan jatuh begitu saja.

Namun, ternyata buah maja memiliki seribu manfaat sehingga juru kunci Situs Siti Inggil di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto membudidayakan. Sukirman membudidayakan pohon maja setelah ia menjadi coba sendiri buah maja yang diyakini banyak manfaatnya tersebut ternyata rasanya manis.

“Banyak orang yang belum tahu kalau ternyata rasanya manis, saya coba setelah ada yang cari. Manfaatnya juga banyak, sehingga saya membudidayakan sejak beberapa bulan lalu. Ini juga untuk mengingatkan jika kita hidup di Majapahit,” ungkapnya, Kamis (8/4/2021).

Pohon maja banyak ditemukan di situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Manfaatnya terdapat pada semua bagian pohon buah, mulai dari daun, batang, buah hingga akar. Buah maja dapat mengobati diare dan disentri, asma, anemia, mengobati darah tinggi. Mengatasi rasa mual dan muntah yang berlebihan selama masa kehamilan, mempercepat pemulihan luka dalam maupun luar dan meningkatkan konsentrasi.

Selain itu kandungan alami yang dimiliki di dalam buah maja tersebut sangat ampuh menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Buah maja ini memang sangat terkenal di seluruh penjuru dunia, namun nama internasionalnya dikenal dengan sebutan bael fruit atau wood apple.

Warna kulit luar buah maja berwarna hijau tetapi isinya berwarna kuning atau jingga. Aroma buahnya harum dan cairannya manis seperti jeruk, buah maja dapat diolah menjadi serbat, selai dan sirop. Pengunjung Situ Siti Inggil bisa membeli dengan harga Rp 50 ribu per bibit kemasan plastik.

“Selain itu, akhir-akhir ini banyak orang melupakan Majapahit sehingga saya membudidayakan pohon maja dengan tujuan agar masyarakat berada di mana? Menginjak dimana? Menginjak bumi Majapahit. Jika kita melupakan leluhur, sepertinya kurang pas,” jelasnya. [tin/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar