Ekbis

Mahasiswa PKN Launching Produk Potensial Desa

Pamekasan (beritajatim.com) – Mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, melakukan launching beragam produk potensial yang dapat mendukung sektor perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di berbagai desa di Kabupaten Pamekasan.

Launching produk potensial dilakukan mahasiswa yang tengah menjalani program Perkuliahan Kerja Nyata (PKN) XXV Berbasis Participatory Action Research (PAR) 2020. Di antaranya di Desa Bandungan (Pakong) dengan produk Brownis Terong dan Sosis Bayam, Larangan Badung (Palengaan) dengan produk Kripik Tette Ladung hingga Desa Ponteh (Galis) dengan produk Kripik Tahu Mettek.

Dalam pelaksanaan launching tersebut, juga dilaksanakan sejumlah kegiatan pendukung lainnya. Semisal workshop entrepreneur, training pengolahan hasil pertanian, pelatihan wirausaha hingga sosialisasi perizinan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Produk ini sengaja kami launching karena kami nilai sangat potensial, terlebih melimpahnya air di Desa Bandungan sangat mendukung masyarakat untuk bercocok tanam. Salah satunya tanaman terong dan bayam,” kata Kordes Bandungan, Pakong, Alimatuzzahro, Senin (31/8/2020).

Salah satu produk Brownis Terong dan Sosis Bayam, karya mahasiswa PKN PAR IAI Al-Khairat Pamekasan, di Desa Bandungan, Kecamatan Pakong.

Berdasar pengamatan dan hasil kajian selama beberapa pekan di lokasi pengabdian, akhirnya mahasiswa sepakat untuk mempopulerkan hasil pertanian desa setempat sebagai produk potensial. Terlebih selama ini keberadaan dua jenis sayuran tersebut, cenderung diabaikan dan tidak memanfaatkan dengan baik.

“Sayuran buah terong maupun sayuran daun bayam sangat mudah didapatkan di Desa Bandungan. Bahkan tidak jarang masyarakat justru membiarkan dua jenis sayuran ini tidak dimanfaatkan (tidak dipanen), terlebih harga jual di pasaran juga sangat murah,” ungkapnya.

Dari itu, pihaknya mencoba untuk mengeksplor potensi desa yang dinilai dapat meningkatkan sektor pendapatan bagi masyarakat setempat. “Melalui training ini kita harapkan nantinya muncul kesadaran masyarakat akan pentingnya salah satu potensi desa yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal,” jelasnya.

“Tidak kalah penting keberadaan dua jenis sayuran ini memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, termasuk untuk pemasukan yang sangat potensial. Sehingga training ini kita lakukan untuk memperkenalkan teknik pembuatan produk brownis terong dan sosis bayam, termasuk model kemasan hingga pola marketing,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Kordes Larangan Badung, Kholqiyatun Noriyah yang menilai keberadaan kripik tette di desa setempat sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Selama ini kripik tette di desa ini hanya dijual dengan model ikat (tali), tetapi melalui kemasan baru produk ini sangat potensial menembus pasar UMKM,” kata Noriyah.

Termasuk juga launching kripik tahu mattek khas Desa Ponteh, yang dinilai menjadi salah satu sektor produk potensial demi kesejahteraan masyarakat. “Memang khusus Desa Ponteh tidak ada produksi tahu, tetapi keberadaan produk tahu di desa sekitar dapat menjadi solusi alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Kordes Ponteh, Anna Febriyanti.

“Tidak kalah penting selama ini masyarakat disini juga cukup banyak yang terlibat aktif dalam UMKM, sehingga produk ini menjadi alternatif dan potensial untuk dikembangkan dan bersaing dengan jenis produk lainnya. Apalagi cara buatnya juga relatif mudah dibandingkan produk yang lain,” pungkasnya. [pin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar