Iklan Banner Sukun
Ekbis

Laju Pertumbuhan PDRB Pertanian Jember Minus 0,11 Persen

Jember (beritajatim.com) – Saat sejumlah lapangan usaha atau industri di Kabupayen Jember, Jawa Timur, mengalami pertumbuhan positif pada 2021, sektor agrikultur berupa pertanian, kehutanan, dan perkebunan justru mengalami penurunan hingga minus.

Berdasarkan data laju pertumbuhan produk domestik regional bruto atas dasar harga konstan (PDRB ADHK) yang tertuang dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati 2021, pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perkebunan cenderung naik turun, namun baru menyentuh angka minus pada 2020 dan 2021.

Tahun 2017, pertumbuhannya 2,08 persen yang kemudian turun menjadi 0,02 persen pada 2018. Tahun 2019, pertumbuhannya meningkat menjadi 1,46 persen. Tahun 2020, pertumbuhannya minus 1,07 persen, dan pada 2021 minus 0,11 persen.

Dibandingkan lapangan usaha lain, sektor pertanian di Jember paling susah bangkit pada masa pandemi. Ada tujuh lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan minus pada 2020, yakni pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, dan jasa perusahaan. Namun semuanya tumbuh positif pada 2021.

Ini menjadi salah satu topik yang disinggung dalam rapat Panitia Khusus 1 membahas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Jember Tahun Anggaran 2021, di ruang Komisi A, DPRD Jember, Senin (4/4/2022) malam.

“Saya berharap sektor pertanian jadi perhatian serius DPRD, karena 50 persen penduduk Jember ini bekerja dengan ketergantungan pada sektor pertanian. Saya tidak berharap tahun ke tahun PDRB dari sektor pertanian menurun,” kata Nur Hasan, anggota pansus dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.

Penggunaan lahan di wilayah Kota Jember sendiri masih didominasi untuk kegiatan pertanian yakni seluas 5.099,283 Ha atau 51,47 persen dari total luas wilayah kota. Nur Hasan mengingatkan, jika PDRB sektor pertanian menurun, maka potensi urbanisasi semakin besar.

“Pemuda desa menjadi tidak cinta pertanian. Padahal yang kita ingin galakkan adalah bagaimana pemuda senang bertani. Tidak urban terus. Pemuda keluar dari sekolah ke kota. Akhirnya di desa tinggal yang tua. Yang tua ini imejnya (suka pakai pupuk) urea. Kalau yang muda-muda kan mudah diajak ngomong (untuk mengembangkan pertanian organik). Tapi kalau yang tua, hidup mati memakai urea,” kata Nur Hasan.

Pemkab Jember dalam buku LKPJ 2021 sendiri sebenarnya sudah menyebutkan, bahwa kelompok penduduk dengan jumlah populasi yang besar, seperti kelompok penduduk pelajar usia muda, termasuk yang di pesantren, adalah sasaran strategis yang dapat dilibatkan dalam mengembangkan sektor-sektor utama dan potensial penyumbang PDRB.

“Kelompok yang berisi generasi baby boomer dan millenial tersebut dapat diberikan pelatihan yang lebih technology-intensive untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan budidaya dan usaha di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan,” demikian Bupati Hendy Siswanto menyebutkan dalam buku LKPJ 2021.

Misi keempat Bupati Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman adalah memfasilitasi lahirnya wirausaha baru dan bertumbuhkembangnya usaha mikro dan kecil berbasis potensi lokal, seperti pertanian dan perikanan, terutama di pesantren-pesantren melalui strategi Wis wayahe Pesatren Berdaya.

Namun, minat generasi muda di desa untuk bertani diakui Wakil Ketua DPRD Jember Ahmad Halim kian menurun. “Menumbuh kembangkan cinta kepada petani dimulai dari muda. Jangan terbalik. Petani jadi politisi. Padahal saya petani. bagaimana ini,” katanya berseloroh. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar