Iklan Banner Sukun
Ekbis

KTNA Dukung Pendirian Pabrik Pupuk Organik oleh Pemkab Jember

Jember (beritajatim.com) – Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) mendukung pendirian pabrik pupuk organik oleh Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pendirian pabrik itu dianggap menguntungkan petani.

Pabrik pupuk organik itu akan didirikan di Kecamatan Silo dan Wuluhan dengan anggaran masing-masing Rp 2 miliar tahun ini. Saat ini, pemerintah masih melakukan survei layak desain bangunan gedung dan alat mesin pertanian. Rencananya, pabrik pupuk organik itu akan membeli bahan baku kotoran ternak dari petani.

“Kami menyambut baik. Ini kabar gembira bagi petani Jember, mengingat kondisi tanah saat ini bahan organiknya masih di bawah lima persen sebagai syarat ideal untuk pertanian,” kata Wakil Ketua KTNA Jember Ali Muntaha.

Ali ingin pupuk organik produksi pabrik itu nantinya mengandung mikroorganisme pembenah tanah. “Bahan bakunya diambil dari petani lokal, bahkan bisa memberdayakan kelompok-kelompok tani yang sudah memproduksi bokasi atau organik plus. Pupuk bisa ditampung dalam satu wadah pabrik, distandardisasi kualitasnya, dan langsung bisa dimanfaatkan petani Jember yang tentunya sudah beradaptasi dengan tanah di Jember,” kata warga Desa Selodakon, Kecamatan Tanggul ini.

Selama ini petani sudah mendapat suplai pupuk organik bersubsidi Petroganik yang diproduksi Petrokimia Gresik. Ini menghilangkan gairah petani untuk memproduksi pupuk organik sendiri. “Petani putus harapan. Tadinya berharap bisa mengembangkan pupuk organik dengan muatan lokal, tidak bisa berkembang,” kata Ali.

Petani sendiri kesulitan terus-menerusmembuat pupuk organik secara mandiri karena membutuhkan waktu. Dengan kehadiran pabrik pupuk organik yang didirikan pemkab, menurut Ali, petani akan terbantu memperoleh pupuk dengan bahan baku lokal secara berkelanjutan.

“Nantinya petani Jember bisa mendapat pupuk organik dari (bahan baku) buatan petani Jember sendiri. Karena kan prinsipnya, agen hayati di masing-masing daerah memiliki spesifik lokasi. Belum tentu bakteri pembenah tanah atau organisme positif di Sidoarjo atau Mojokerto bisa adaptif di Jember. Kalau diambil dari Jember, untuk Jember, otomatis sudah cocok dengan kondisi dan iklim tanah di Jember,” katanya.

‘Kedua, pemberdayaan petani kelompok yang selama ini dibina Dinas Pertanian untuk pembuatan pupuk organik bisa dikembangkan, terus dirangsang memproduksi,” kata Ali.

Abdul Rois, Ketua Kelompok Tani Sekar Tani di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, mendukung pendirian pabrik organik tersebut. Tapi ia ingin memastikan sistem penjualan pupuk organik buatan pabrik milik pemkab itu.

“Apakah disubsidi pemerintah atau petani disuruh beli seperti pupuk organik dari Petrokimia? Sistem distribusinya bagaimana, apakah melalui kios atau melalui kelompok? Harganya berapa? Kalau harga pupuk organik itu murah, ya petani suka saja,” katanya.

Rois juga ingin memastikan pengambilan bahan baku pupuk dari petani Jember sendiri. “Kalau petani bisa memasok bahan baku, bisa menjadi tambahan penghasilan, karena petani rata-rata peternak,” katanya. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar