Ekbis

Krisis Pupuk, HKTI Jember: Undang KP3 atau Kami Demo!

Jember (beritajatim.com) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengancam akan melakukan aksi demonstrasi untuk memprotes krisis pupuk bersubsidi. Mereka minta kepada DPRD Jember untuk dipertemukan dengan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3).

“Kalau pada Maret nanti KP3 tidak diundang di sini, kami akan menurunkan massa hingga seribu orang. Harapan kami KP3 diundang,” kata Ketua HKTI Jember Jumantoro, dalam rapat dengar pendapat di ruang Komisi B DPRD Jember, Selasa (25/2/2020).

Saat ini, alokasi pupuk bersubsidi untuk pupuk di Jember terbatas. “Yang dikecewakan ada pola (pembelian) pupuk non subsidi yang sedikit dipaksakan. Ini zaman kemerdekaan. Jangan dipaksakan, tapi beri pendampingan dan edukasi,” kata Jumantoro.

Jumantoro berharap pupuk organik tak disubsidi, karena petani sudah bisa memproduksi. “Pupuk kimia yang perlu disubsidi, karena sangat dibutuhkan petani. Pada era lalu, kami diminta menggunakan pupuk berimbang. Saat kami sudah menggunakan pupuk berimbang, pupuknya tidak ada. Pupuk non subsidi sangat memberatkan petani, karena harganya tiga kali lipat pupuk bersubsidi. Harga pupuk urea subsidi Rp 180 ribu per kuintal, kalau non subsidi Rp 600-700 ribu per kuintal,” katanya.

Jumantoro mendesak agar ada cek silang jumlah pupuk bersubsidi di Jember. “Hari ini, beli satu sak urea, ada embel-embelnya non subsidi,” katanya. Jika krisis pupuk bersubsidi dibiarkan, maka petani akan sangat terimbas dan dirugikan, sehingga produksi turun drastis.

HKTI juga mendesak agar instruksi presiden tentang harga gabah ditinjau ulang, agar petani menikmati keuntungan yang layak. “Kalau menurut Inpres Nomor 5 Tahun 2015, harga gabah kering panen Rp 3.750 per kilo. Harapan petani Rp 4.500. Kami mengacu harga beras Rp 9-10 ribu per kilogram,” kata Jumantoro.

Nyoman Wibowo, anggota Komisi B, sepakat dengan tuntutan HKTI. Komisi B akan segera mengundang KP3 untuk membicarakan masalah pupuk ini. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar