Iklan Banner Sukun
Ekbis

Krisis Pupuk Bersubsidi, Dinas Tanaman Pangan Jember Yakin Produksi Padi Terjaga

Kepala Dinas Tanaman Pangan Jember Imam Sudarmaji

Jember (beritajatim.com) – Krisis pupuk bersubsidi yang dihadapi petani diyakini tidak akan mengganggu produksi padi di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Status Jember sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur akan tetap terjaga.

Dinas Tanaman Pangan tetap memacu peningkatan produksi. Sehingga produksi tiap tahun bisa mengalami kenaikan.

“Walaupun dikatakan pupuk langka, tapi untuk produksi kita masih bisa memenuhi target. Kemarin (produksi padi) 998 ribu ton. Target 1 juta ton atau lebih masih bisa,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Imam Sudarmaji, ditulis Sabtu (1/10/2022).


Terbatasnya pupuk bersubsidi bisa disiasati dengan pemupukan berimbang menggunakan perpaduan pupuk organik dan kimia. “Kami harapkan kita kembali ke pertanian organik,” kata Imam.

“Pemerintah kemarin punya program Makmur atau dikenal juga sebagai Agro Solution. Itu juga membantu untuk penggunaan pupuk berimbang. Memang belum semua petani, tapi hasilnya lebih meningkat,” kata Imam.

Menurut Imam, selama ini petani punya kebiasaan menggunakan pupuk kimia secara tak berimbang. “Penggunaan pupuknya kadang over. Satu hektare kadang butuh satu kuintal, petani memberi dua atau tiga kuintal. Jadi terbuang,” katanya.

Sebelumnya, di hadapan massa petani dalam tasyakuran Hari Tani Nasional, Selasa (27/9/2022), Bupati Hendy Siswanto ingin Jember tetap menjadi penyangga pangan nasional dan Jawa Timur.

Berdasarkan data dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jember 2021-2026, produksi padi pada 2020 adalah 991.892 ton, jagung 411.168 ton, dan kedelai 7.742 ton. Hendy juga meminta kepada petani untuk mulai beralih dari pemakaian pupuk kimia ke pupuk organik.

“Kebijakan dari pemerintah pusat, pupuk subsidi dikurangi. Ini kebijakan pemerintah pusat. Bukan Pemerintah Jember. Kita harus segera beralih ke pupuk organik,” katanya.

Berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jember 2021-2026, di Jember terdapat 86.598 hektare sawah beririgasi dan 81.081 hektare lahan pertanian pangan. Namun, lemahnya pengendalian tata ruang menyebabkan alih fungsi lahan tidak terkendali seperti lahan hijau atau lahan sawah menjadi bangunan.

Salah satu masalah pokok sektor pertanian di Jember adalah rendahnya nilai tawar pendapatan petani, khususnya padi. RPJMD menyebutkan arus distribusi tidak terekam dengan baik. Pengelolaan pasca panen padi belum optimal dan petani menjual produksi masih dalam bentuk padi. [wir/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar