Iklan Banner Sukun
Ekbis

Komoditas Telur Ayam Ras Jadi Penyumbang Deflasi Kota Madiun

Foto ilustrasi

Madiun – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat, telur ayam ras menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terbesar menyumbangkan deflasi Februari 2019 yang mencapai 0,10 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 132,40 persen.

“Disamping telur ayam ras, komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi yakni bawang merah, daging ayam ras, bensin, cabai rawit, tarif KA [kereta api], angkutan antarkota, kubis, wortel, dan cabai merah,” kata Kepala BPS Kota Madiun, Firman Bastian kepada media di Kantornya Kota Madiun, Selasa (5/3).

Dijelaskan pula, deflasi yang terjadi di Kota Madiun tersebut disebabkan berbagai faktor. Di antaranya karena ketersediaan komoditas bahan makanan melimpah di pasaran, sehingga harga turun.


“Deflasi itu menunjukan stoknya atau ketersediaan barang melimpah tapi permintaan menurun sehingga terjadi penurunan harga. Bisa juga karena Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Madiun sudah memantau dan mengatur strategi dari awal tahun agar tidak terjadi kenaikan harga komoditas yang signifikan,” kata Firman Bastian.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi di Kota Madiun adalah beras, bawang putih, pepaya, sepeda motor, tomat sayur, rokok kretek, obat dengan resep, mi kering instan, susu untuk anak balita, dan anggur.

“Komoditas-komoditas tersebut menjadi penekan deflasi atau penyumbang inflasi karena harganya naik,” tutur dia.

Ditambahkan Firman, dari tujuh kelompok pengeluaran, tiga di antaranya mengalami deflasi dan empat lainnya inflasi. Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah bahan makanan, pendidikan, rekreasi, dan olahraga, serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi antara lain kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar, kelompok sandang, dan kelompok kesehatan.

Firman menerangkan, dari delapan kota IHK di Jawa Timur, semua kota mengalami deflasi dengan deflasi tertinggi terjadi di Kota Malang sebesar 0,42 persen; diikuti Kabupaten Sumenep dengan deflasi sebesar 0,37 persen; Kabupaten Jember dengan deflasi sebesar 0,16 persen.

Selanjutnya, Kota Probolinggo deflasi sebesar 0,14 persen; Kota Surabaya deflasi 0,13 persen; Kota Madiun deflasi 0,10 persen; sedangkan Kabupaten Banyuwangi dan Kota Kediri deflasi 0,08 persen. Pada bulan ini, Jatim mengalami deflasi  0,18 persen dan nasional mengalami deflasi sebesar 0,08 persen. (tok-kominfo)


Apa Reaksi Anda?

Komentar