Iklan Banner Sukun
Ekbis

Kisah Para Mantri Penyelamat Ekonomi Ala Desa

Surabaya (beritajatim.com) – Fikri Zulfikar, harus rela mendapatkan banyak sebutan. Mulai dari Mantri uang hingga orang kelurahan. Banyak orang yang bingung sebenarnya apa pekerjaannya.

Saat ditemui Fikri pun hanya tersenyum karena memang hampir setiap hari dirinya datang ke kantor desa di Pakong Kabupaten Pamekasan. Fikri mengaku dirinya sering berbagi waktu antara berkantor di BRI Unit Pakong dan kantor desa.

“Kerja kami keliling tapi bukan seperti bank titil yang menagih pinjaman orang. Saya nyari warga yang mau diajak usaha atau yang sudah punya usaha saya kasih ide baru untuk meningkatkan usaha mereka hingga membantu permodalan,” ungkapnya ketawa.

Mendengar penjelasannya, sekilas memang mampu membuat banyak orang mengasumsikan dirinya crazy rich yang sengaja cari sensasi di desa. Namun tentu saja Fikri bukan temannya afiliator yang sedang hits.

“Saya Mantri BRI mbak. Setiap hari kerjanya ya dilapangan muter mencari UMKM yang mau mengembangkan usahanya. Sebagian besar memang butuh modal tetapi sebagiannya lagi butuh pelatihan dan ide untuk bisa memulai usaha pertama mereka,” akunya.

Jika dulu Mantri BRI hanya keliling mencari nasabah yang mau meminjam uang ke BRI, maka kini Mantri BRI menjadi konsultan bayangan UMKM untuk memulai bisnisnya.

Melalui program Pojok Mantri Desa kini setiap Mantri harus mampu mengembangkan UMKM di desa. Fikri adalah salah satu yang sukses menggiring petani singkong menjual produk olahan singkong kekinian.

“Saya ditantang pak Fikri membuat proll tape jadi tidak hanya jualan singkong dan tapenya saja ke pasar Pakong. Dan ternyata banyak peminatnya,” sela Rizki (25) anak petani singkong yang kini beralih jadi pengusaha mikro proll tape.

Fikri mengakui banyak tantangan yang harus dihadapi saat meminta para petani di desa mengolah produk pertaniannya agar lebih memiliki nilai jual tinggi. Banyak penolakan yang didapatnya, tetapi dirinya tak gampang menyerah.

“Yang petani generasi pertama memang sulit didekati tetapi generasi kedua yakni anaknya yang masih muda tertarik mencoba hal yang baru. Dan alhamdulillah anak mudanya suka peluang baru,” kenangnya.

Jika Fikri harus menghadapi resistensi dari petani, Dhona Triwibawa, Mantri BRI Unit Pacet Kabupaten Pasuruan justru dihadapkan pada dampak Covid-19 yang memukul perekonomian peternak sapi perah di daerah wisata Pacet.

“Wisata ditutup peternak susunya pun hancur. Sambil cangkrukan beberapa peternak ternyata mau mengembangkan susu pasteurisasi. Sehingga susunya bisa dijual hingga ke kota besar seperti Surabaya,” kenang Dhona.

Gayung bersambut, banyak yang mencari susu saat pandemi membuat peternak binaan Mantri Dhona pun banjir pesanan.

“Saat banyak yang nyari susu bearbrand karena mampu menangkal Corona, susu UMKM binaan kami pun ikut dapat banyak pesanan,” cerita lelaki kurus itu sambil tersenyum.

Menjadi Mantri BRI ternyata tak sekadar mencari nasabah untuk pinjaman saja ternyata juga harus mampu membaca peluang bagi UMKM yang ada di sekitar mereka. Bahkan tak jarang keduanya memberikan pandangan peluang usaha baru untuk pelaku UMKM yang bukan bahkan tidak mau menjadi nasabah BRI.

“Ini tugas khusus kami, membuat setiap desa yang ada Mantrinya punya produk unggulan untuk menaikkan perekonomian keluarga,” tandas Dhona.

Mantri BRI diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam menyukseskan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui pemberdayaan UMKM yang ada di unit tempat mereka ditugaskan. Pada akhirnya terbentuk desa-desa yang punya ikon dan produk UMKM.[rea]


Apa Reaksi Anda?

Komentar