Ekbis

Budi Daya Lele Binaan Allianz Indonesia

Kiai Sufaat Menangis Jika Ikan Lele Miliknya Mati

Mojokerto (beritajatim.com) – Senyum Kiai Sufaat langsung mengembang ketika melihat kolam lele yang ada di belakang rumahnya menghasilnya bobot yang cukup bagus. Dia bersyukur ikan berkumis yang ada di kolam tersebut tidak banyak yang mati. Makanya satu kolam mampu menghasilkan 350 kilogram ikan lele.

Pengasuh pondok Baiturrokhim Dusun Greyol, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, ini memang cukup telaten dan hati-hati dalam merawat ikan. Bahkan, dirinya mengaku, air matanya menetes jika ikan di kolam tersebut ada yang mati.

“Kalau ada yang mati satu ekor (ikan lele), saya tangisi. Makanya saya merawat dengan hati-hati. Alhamdulillah, panen perdana ini hasilnya cukup bagus. Satu kolam menghasilkan 350 kilogram lele,” ujar Sufaat usai menimbang ikan hasil budidayanya, Sabtu (13/4/2019).

Panen perdana yang dilakukan pesantren di Dusun Greyol tersebut terbilang istimewa. Selain pemuda kampung, juga dihadiri tamu  dari PT Asuransi Allianz Life Indonesia (AALI). Mereka datang khusus dari Jakarta. Selain itu juga dari EDU Foundation.

Mereka adalah head of Market Management PT AALI Karin Zulkarnain, Head of Corporate Events & CSR PT AALI Arini Bachtiar, Zaky Zakaria dari EDU Foundation. Budidaya lele organik yang ada di dusun tersebut merupakan binaan PT Asuransi Allianz Life Indonesia (AALI).

Kiai Sufaat terlibat dalam panen perdana karena lahan yang digunakan untuk budi dayalele merupakan aset milik pondok. Bahkan sebelum program budi daya lele organik dari PT AALI ini masuk di dusun ini, pihak pondok sudah lebih dulu melakukan budidaya lele, meskipun dari sisi manajemen maupun permodalan belum bagus.

Oleh karena itu, Sufaat sangat berterima kasih atas dukungan PT AALI. Sebab, sejak enam tahun dirinya berbudidaya lele, kerap mengalami kesulitan modal awal guna pembelian benih dan sebagainya.
“Saya sudah kirim proposal beberapa kali ke pemerintah daerah, mohon bantuan modal dan pelatihan. Tapi tak ada tanggapan. Nah, pada saat saya sedang kesulitan ini, kebetulan datang bantuan dari Allianz,” katanya berkisah.

Hasil panen perdana, lanjut Sufaat, cukup menjanjikan, dalam arti ke depan bisa ditingkatkan lagi. “Kalau dihitung, minimal ini sudah balik modal. Padahal masih ada panen lagi di kolam yang lain,” kata Kiai Sufaat yang mengelola 20 kolam lele.

Head of Market PT AALI Karin Zulkarnain menyatakan, dirinya khusus datang dari Jakarta untuk ikut melihat panen perdana lele tersebut. Karena budi daya lele ini merupakan program yang didukung PT AALI sejak 4 bulan lalu.

Para pemuda di desa tersebut mulai dilatih budi daya lele dalam program pemberdayaan pemuda PT AALI (melalui Yayasan Allianz Peduli) bersama EDU Foundation, sejak 28 Desember 2018. “Empat bulan lalu kami ikut menebar benih lele di sini, hari ini panen perdana,” kata Karina.

Menurut Karin, budi daya lele untuk para pemuda di Dusun Greyol merupakan salah satu program ‘social inclusion’ dari PT AALI. Pihaknya mendapatkan dana dari Allianz Group yang pusatnya di Jerman sebesar 20.000 Euro atau sekitar Rp 320 juta. Nah, dana tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas program budi daya lele di pesantren Baiturrokhim, Dusun Greyol.

Programnya terdiri dari kegiatan pelatihan. Meliputi budidaya lele organik, aquaculture untuk mengelola, memelihara, memanen hingga memasarkan hasil lele.

Tujuannya, selain dapat mengembangkan diri, juga agar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, sesuai dengan salah satu pilar tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Yakni pilar ekonomi.

Dengan memakan waktu setahun penuh, para pemuda dilatih menjadi pengusaha lele sekaligus menjadi ‘social enterpreneur’. “Saat ini membina 20 pemuda. Targetnya, dalam satu tahun ini tumbuh minimal 25 pemuda,” sambung Karin.

Setelah satu tahun, PT AALI menargetkan para pemuda ini sudah memiliki keahlian budi daya lele serta mengelola pendapatan secara maksimal. “Ilmunya juga ditularkan kepada para pemuda lain di desa ini, uangnya juga harus bergulir. Tidak boleh habis, bahkan harus berkembang. Sehingga kami bisa membantu ke komunitas lainnya,” pungkas Karin. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar