Ekbis

Kesal Pesta Nikah dengan Khofifah Gagal, Warga Bondowoso Bikin Batik Corona

Bondowoso (beritajatim.com) – Seharusnya, 6 April 2020 menjadi hari bahagia bagi Andriyanto. Undangan sudah disebar. Tempat sudah disiapkan. Makanan sudah dipesan untuk resepsi pernikahannya dengan Khofifah di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Namun kondisi darurat Covid-19 membuyarkan semua persiapan.

Resepsi pernikahannya ditunda dan Andriyanto hanya bisa melangsungkan akad nikah sehari sebelumnya. “Kalau Bu Gubernur sudah instruksikan untuk membatalkan (semua kegiatan yang mengundang keramaian), ya berarti istri saya juga menginstruksikan batal,” katanya tertawa.

“Saya sebenarnya sedikit syok dan stres juga. Daripada berlarut-larut dalam kesedihan, virus coronanya saya bikin desain batik saja. Saya butuh waktu sekitar satu jam. Jadi saya lampiaskan kekesalan terhadap wabah juga,” kata warga Dusun Glintongan, Desa Tamanan, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso ini, Jumat (27/3/2020).

Desain batik itu diunggahnya di instagram dan WhatsApp. Hasilnya, banyak yang tertarik. Namun Andriyanto membatasi 10 pesanan batik tulis dengan desain ini. “Saya batasi untuk motif desain ini. Tapi nanti saya akan bikin motif corona lainnya untuk menjaga eksklusivitas batiknya,” katanya. Dia mematok harga Rp 400 ribu per lembar batik.

Sebelumnya nama Andriyanto sudah dikenal publik luas karena membuat batik tulis edisi Asian Games 2018. Selain itu, ia juga menerima pemesanan pembuatan batik dari sejumlah instansi seperti Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

“Pesan yang ingin saya sampaikan, dengan batik ini orang teringat dengan wabah ini. Begitu lihat batik ini, orang ingat bahwa sekarang musim wabah corona dan langsung ingat untuk pakai hand sanitizer, cuci tangan. Ini bagian dari sosialisasi juga,” kata Andriyanto.

Andriyanto memiliki 25 pekerja batik tulis di sanggarnya. Mereka bekerja sesuai protokol untuk melindungi diri, yakni menjaga jarak minimal satu meter dan memakai masker. Selain itu, di sanggar juga disediakan hand sanitizer, sabun dan air mengalir untuk cuci tangan. “Pesanan 10 batik corona ini rencananya akan saya selesaikan dalam waktu satu minggu,” katanya. Dia kemudian akan membuat desain baru.

Andriyanto mengatakan, wabah Covid-19 tidak boleh mematikan kreativitas. Sikap positif tetap harus dijaga. “Meski kita ada instruksi di rumah saja, maka saya membuat desain. Apalagi usaha batik saya di rumah,” katanya. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar