Ekbis

Keluh Kesah Petani Tebu Terjawab

Ketua II DPN APTR (Asosiasi Petani Tebu Rakyat) Basyaruddin Soleh (kiri) saat melihat lahan tebu miliknya, Jumat (3/7/2020)

Jombang (beritajatim.com) – Ketua II DPN APTR (Asosiasi Petani Tebu Rakyat) Basyaruddin Soleh membeberkan keluh kesah petani tebu. Di antaranya, kondisi petani tebu yang babak belur karena terpukul masuknya gula impor.

Gerojokan gula impor tersebut berdampak pada kelebihan suplai gula dalam negeri. Selain itu, kebijakan tersebut juga membuat gula lokal tak laku. Masuknya gula impor ini juga sempat membuat gairah sebagian besar petani tebu mengendur. Mereka beralih ke komoditas lain.

Dia meyakini, jika kondisi tersebut terus menerus berlangsung, maka dipastikan pasokan tebu ke pabrik gula akan berkurang. Bahkan, satu per satu pabrik gula akan gulung tikar. “Ini saja sudah dua pabrik milik PTPN X yang tutup, PG Tulangan dan PG Watutulis, dan yang sudah terancam ini PG Djombang Baru, PG Mrican, PG Lestari,” bebernya, Jumat (3/7/2020).

Hal-hal seperti itulah yang disampaikan oleh Basyaruddin saat bertemu dengan Komisi VI DPR RI, Menteri Perdagangan serta Menko Ekonomi, pada Kamis 2 Juli 2020. Gayung pun bersambut. Usai pertemuan tersebut, pemerintah mewajibkan para importir membeli seluruh gula petani dengan patokan harga Rp 11.200 per kilogram.

“Kami sudah menyampaikan ke pemerintah soal kondisi petani tebu. Walhasil, ada respon cukup baik,” ujar pria asal Desa Banjarsari, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang ini,  ketika ditemui di lahan tebu miliknya.

Basyaruddin mengungkapkan, dalam pertemuan itu, pemerintah berencana mewajibkan setiap importir raw sugar (gula rafinasi) membeli 800 ribu ton gula petani dengan Rp 11.200 per kilogram. Soal teknis dan pelaksanaannya, lanjut Basyaruddin, dalam waktu dekat akan dibuatkan MoU disaksikan Ketum DPN APTR.

foto/ilustrasi

Menurut pria yang cukup lama bergelut di sekotor pertebuan ini, pertemuan tersebut juga dihadiri oleh beberapa perwakilan importir gula. Di antaranya PT. KTM, PT. SMS, PT. Dompu, PT. MSI, dan sejumlah importir lainnya. Walhasil, mayoritas importir itu menyetujui keputusan pemerintah. “Ada sekitar 7 (importir) yang menyanggupi,” urainya.

Basyaruddin mengakui, beberapa waktu terakhir ini harga gula di pasaran memang cukup tinggi, yakni tembus Rp 18 ribu per kilogram. Namun demikian, itu tidak menguntungkan petani sama sekali, sebab harga lelang dari petani hanya berkisar antara Rp 10.500 – Rp 10.700. Bahkan, di tahap kedua, harganya anjlok pada angka Rp 10.200.

“Padahal sebelum Covid-19, HPP petani sebesar Rp 10.900 per kilo. Sekarang malah Rp 10.200, makanya kami minta importir beli gula petani dengan harga Rp 11.200. Minimal periode ketiga sudah diberlakukan,” terang Basyaruddin. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar