Ekbis

Di Tengah Pandemi Covid-19

Kecemasan Hantui Petani Tembakau di Pamekasan

Salah satu petani tembakau di Desa Tobungan, Kecamatan Galis, Pamekasan, mulai menanam bibit tembakau memasuki musim tanam tahun 2020.

Pamekasan (beritajatim.com) – Sejumlah petani tembakau di Pamekasan, mulai dihantui kecemasan untuk menanam tembakau seperti yang mereka lakukan setiap tahun, khususnya memasuki musim tanam tembakau pada tahun ini.

Hal tersebut tidak lepas dari adanya wabah virus corona alias Covid-19 yang hingga saat ini masih terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, tidak terkecuali di Madura, khususnya di kabupaten Pamekasan. Sehingga para petani harus berpikir ulang untuk memulai menanam tembakau.

Terlebih hingga saat ini, para petani juga belum mendapat gambaran dari pihak perwakilan pabrik rokok tentang rencana pembelian tembakau. Sehingga para petani khawatir saat masa panen justru hasil tanam mereka tidak terbeli.

“Seharusnya pada pertengahan April (2020) sudah ada sosialisasi dari pemerintah seputar tanaman tembakau, termasuk tentang kebutuhan pabrik terhadap tembakau petani. Tapi hingga saat ini belum ada kejelasan,” kata salah satu petani tembakau di Desa Tobungan, Galis, Pamekasan, Maisyaroh, Senin (1/6/2020).

Selain itu ia juga menyampaikan jika sosialisasi dari pemerintah tentang tembakau juga menyampaikan tentang kebutuhan pabrikan terhadap tembakau petani, termasuk total berapa ton yang dibutuhkan selama musim panen tembakau pada 2020.

Namun bagi Maisyaroh, menanam tembakau merupakan pekerjaan turun temurun yang sudah dilakukan sejak lama. Sehingga mereka tetap nekat menggarap lahan miliknya sekalipun nantinya belum tentu terbeli oleh pabrikan. “Saat ini memang sudah waktunya menanam tembakau, dan kami tidak ingin lahan kami menganggur (tidak ditemani tanaman). Sehingga kami sepakat bersama kelurga untuk menanami lahan dengan tembakau,” ungkapnya.

ā€¯Hanya saja saat ini kami tidak menanam banyak seperti pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan di antara tanaman tembakau ini juga kami tanami jagung. Hal ini sebagai upaya menjaga kemungkinan jika nanti tembakau kami tidak terbeli, sehingga kami juga bisa panen jagung,” pungkas perempuan berusia 35 tahun. [pin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar