Ekbis

Kawasan Darmo Physical Distancing, Ini Nasib Pedagang Ketan Punel

Surabaya (beritajatim.com) – Tidak ada pemberitahuan dari pihak Pemerintah Kota Surabaya agar pedagang di kawasan Pysichal Distancing Raya Darmo, Surabaya, untuk menutup usaha. Meski begitu, beberapa warung makan dan cemilan ini berinisiatif menutup dagangannya.

Salah satu warung yang terkena imbasnya adalah miliki Wahyu Jempol. Sudah satu minggu ini kedai ketan punel miliknya yang berada di kawasan Darmo ini ditutup karena ada pemberlakuan sistem buka tutup jalan raya dua kali dalam sehari.

Penurunan omzet pembeli jelas, apalagi jika dibilang rugi tentu. Jika biasanya setiap hari ia mampu menjual ketan punel lebih dari 10 kilo dengan varian rasa, ia kini mengalihkan penjualan hanya melalui delivery order.

“Kita tutup sejak minggu ketiga awal Maret lalu ketika diterapkan physichal distancing, jadi saat ini kami hanya mengandalkan jika ada pesanan saja itu pun juga tidak pasti ada pembeli setiap hari,” ucap Wahyu saat dikonfirmasi melalu telepon selulernya, Rabu (8/4/2020).

Lebih lanjut dikatakan mantan seorang jurnalis ini, yang paling bikin drop adalah penurunan omzet yang cukup besar akibat penutupan ini. Hampir 75 persen penjualan turun. Bahkan ia pun harus meliburkan seluruh karyawannya.

“Dampaknya sangat terasa sekali. Istilahnya kami “terjun bebas” penurunan omzet bahkan bisa dikatakan sampai 75 persen dan karyawan mau tidak mau kami liburkan,” ungkapnya.

Maka, dia berharap ada peninjauan kembali serta ada kebijakan terkait penutupan jalan ini lebih lanjut.

“Bagaimanapun juga kalau jalannya dibuka dan ditutup, tidak ada pembeli yang menuju ke Raya Darmo. Dengan begitu kan tidak ada pembeli yang datang karena terikat dengan sistem buka tutup ini. Karena untuk untuk pedagang kecil seperti kami bisa tetep buka warung hal itu sangat membantu sekali dari sisi pemasukan, apalagi ada karyawan yg harus diberikan haknya,” tutupnya. [way/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar