Ekbis

Kampung Kerajinan Patung di Mojokerto Dapat Pengakuan Unesco

Pengrajin patung di Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto merupakan kampung pengrajin patung di Kabupaten Mojokerto yang sudah diakui Unesco. Warga di desa ini mayoritas merupakan pengrajin arca dari batu andesit yang dipahat.

Salah satu pengrajin arca, Deni Indianto (40). Setiap hari, dengan menggunakan palu dan linggis kecil, Deni memukul secara berulang ulang memahat batu andesit untuk dibuat menjadi patung. Mulai bagian kepala hingga bagian badan patung.

Usai dipahat dan membentuk patung, batu yang memiliki tinggi sekitar 100 centimeter itu diperhalus dengan menggunakan gerinda. Banyak sekali debu yang bertebaran membuat pekerja pemahat harus mengenakan kacamata hitam dan masker untuk menghindari iritasi mata.

Di sini, banyak ditemukan model patung dengan berbagai ukuran dan model, mulai dari Patung Ganesha, Patung Tribuana Tunggadewi, Patung Dewa Wisnu dan lain lain. Karya pengrajin rata-rata bergaya kerajaan Hindu Budha karena adaptasi dari jaman Kerajaan Majapahit.

Pahatannya yang sangat detail dan artistik, membuat patung buatan para pengrajin Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto bisa bertahan sampai ratusan tahun. Bali menjadi tujuan utama pengiriman patung yang dihasilkan para pengrajin.

Deni Indianto mengatakan, bahan patung batu andesit diambil dari Sungai Konto yang ada di Kandangan, Kediri. “Kalau jaman dulu, pemahat cari sendiri bahannya dengan menggunakan mobil. Kenapa harus cari sendiri karena teksturnya beda, ” ungkapnya, Jumat (29/11/2019).

Namun saat ini, lanjut Deni, para pengrajin bisa memesan Batu andesit sesuai keinginan sehingga tidak membutuhkan waktu dan tenaga cukup banyak. Untuk harga patung yang dibuat para pengrajin berbeda, tergantung ukuran dan kerumitan dalam membuat patung.

“Kalau ukuran patung semakin kecil, tingkat pembuatannya juga sulit. Ukurannya ada yang 80 centimeter sampai 3 meter, tergantung permintaan konsumen. Harganya ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Patung punya dua nilai dalam kehidupan sehari-hari, nilai produk dan nilai seni,” katanya.

Kedua nilai tersebut memiliki perbedaan dalam proses pengerjaannya. Patung yang bernilai produk dikerjakan satu orang cukup yang penting asal jadi, namun untuk patung yang bernilai seni lebih kompleks. Mulai badan,fungsi, dan motif patung harus detail dan teliti.

“Harga patung yang bernilai seni lebih mahal jika dibandingkan dengan patung yang bernilai produk. Proses pengerjaan, tingkat kerapian lebih diutamakan dalam patung bernilai seni daripada patung bernilai produk. Patung yang bernilai seni mengunggulkan kualitas, patung yang bernilai produk mengunggulkan kuantitas,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Deni, patung bernilai produk dikejar waktu dan kapasitas kirim dilakukan satu kontainer sehingga patung bernilai produk mengarah ke bisnis. Sedangkan patung yang bernilai seni tergantung pada permintaan customer sendiri sehingga patung tersebut mengarah ke nilai estetika.

“Untuk pembeli, mulai dari Bali, Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Sampai ke Benua Eropa seperti Prancis Jerman Belanda, Cina, Thailand. Biasanya para pelancong eropa hadir langsung ke tempat untuk periksa harga dan melihat patung. Tapi kami juga memasarkan produk patung dengan membuat website blog,
” jelasnya.

Para pengrajin berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto bisa bersinergi dengan pemerintah desa agar Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menjadi ikon Mojokerto. Deni beralasan karena Unesco sudah mengakui sebagai pusat kerajinan patung batu.[tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar