Iklan Banner Sukun
Ekbis

Kali Pertama, Business Forum Pertemukan Tiga Provinsi Besar di Jawa

Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Jatim mengawali agenda Business Forum di Kota Semarang. Kegiatan ini berbeda dengan yang pernah digelar tahun lalu. Kali ini, DPM PTSP Jawa Timur berkolaborasi dengan dua pemerintah provinsi lainnya. Yakni, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Tujuan kegiatan tersebut adalah menyemarakkan iPro (Investment Project Ready to Offer). Kolaborasi tiga provinsi akan memberi banyak informasi kepada investor. Mereka memiliki berbagai pilihan untuk berinvestasi di Indonesia. “Ini juga dalam rangka mengejar target investasi yang diberikan Presiden RI Joko Widodo Rp 1.200 triliun pada 2022,” kata Kepala DPM-PTSP Jatim, Aris Mukiyono.

Pada acara tersebut dihadiri Kepala DPM PTSP Jawa Tengah Ratna Kawuri, Direktur Wilayah IV BKPM RI Yos Harmen, Kepala DPM PTSP Jawa Barat Noneng Komara Ningsih, serta pengusaha dari ketiga provinsi tersebut. Turut hadir secara online, perwakilan IIPC (Indonesia Investment Promotion Center) dari Sydney, Tokyo, Seoul, Taipei, dan Singapura, serta KBRI Bangkok, Thailand.

Aris menambahkan, selain Business Forum, kegiatan tersebut juga menggelar Matchmaking untuk mempertemukan pelaku usaha dari tiga provinsi tersebut. Mereka bergerak pada bidang agro, serta makanan dan minuman. “Mereka akan melakukan improvisasi,” katanya.

Pada September nanti, akan ada kegiatan semacam business forum di Thailand. Aris meminta perwakilan dari Kedutaan Besar Indonesia di Thailand tentang kegiatan tersebut. Potensi ekspor apa dan bagaimana untuk mencapaianya. “Matchamaking lebih fokus dan efektif,” ungkapnya.

Sama seperti pada Business Forum sebelumnya, ada pemateri yang diundang untuk menceritakan potensi masing-masing daerah. Pemateri kali ini adalah tiga kepala DPM PTSP dari masing-masing provinsi. Lalu, Yos Harmen, direktur wilayah IV BKPM RI. Informasi yang disampaikan secara umum tentang layanan perizinan, infrastruktur, serta gambaran PDRB masing-masing wilayah.

Misalnya, di Jawa Timur ada proyek strategis nasional yang memberi kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi. DPM PTSP Jawa Timur memanfaatkan kontribusi tersebut untuk peningkatan investasi tersebut. “Tugas kami, investasi harus bisa berkembang,” imbuh Aris Mukiyono.

Kepala DPM PTSP Jawa Tengah, Ratna Kawuri mengatakan investasi di wilayahnya bukan untuk dikompetisikan, tapi dikolaborasikan. Pemerintah Jawa Tengah berupaya membangun konektivitas antar daerah, antar bidang, dan antarprovinsi. “Kami tidak hanya fokus pada indeks kinerja utama (IKU) saja, kami juga harus melirik tetangga,” ungkapnya.

Dia juga menceritakan tiga potensi ekspor Jawa Tengah. Antara lain, industri makanan dan minuman, tekstil, serta industry olahan. Impornya, 86 persen berupa barang modal dan bahan baku. Ketergantungan impor sangat tinggi. “Kami sedang mengupayakan industri olahan bisa menjadi substitusi industri import,” katanya.

Noneng, kepala DPM PTSP Jawa Barat mengatakan PDRB Jawa Barat paling tinggi adalah industri. Yakni 42 persen terhadap perekonomian Jawa Barat. Kontribusi terhadap perekonomian pada sisi industri nasional mencapai 24 persen. “Investor terbanyak pada sektor otomotif,” ujarnya.

Dia sepakat kolaborasi menjadi strategi yang sangat tepat. Jawa Barat tidak ingin maju sendiri. Noneng menyebut kemajuan investasi di Jawa Barat harus diikuti daerah lain. Karena itu, kolaboras antar daerah harus dilakukan.

Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Direktur Wilayah IV BKPM RI Yos Harmen. Dia menilai Business Forum tiga provinsi merupakan langkah strategis untuk mengejar target investasi pada 2022. “Ini upaya bersama, kerjasama pada bidang investasi yang sangat ideal,” katanya.

Selain itu HIPMI Jawa Barat, Kadin Jawa Tengah, Kepala IIPC, dan para pelaku usaha yang hadir juga mengaku iPro yang ada di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah memiliki keunikan dan potensi yang menjanjikan bagi para investor, sehingga harus dikolaborasikan dengan efektif.

Salah satunya yang diungkapkan kepala IIPC Sydney, Henry Rombe mengingatkan agar forum seperti ini lebih banyak digelar untuk mempersatukan investasi yang ada di Pulau Jawa lantaran investor semakin banyak pilihan untuk berinvestasi, “Forum seperti ini sangat bagus bagi para investor karena ragam pilihan di masing masing iPro sangat terbuka,” pungkasnya. [tok/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar