Ekbis

Jelang Lebaran, Covid 19 Belum Reda, Penjahit di Lamongan Masih Sepi Pesanan

Lamongan (beritajatim.com) – Sejak awal bulan suci Ramadan 1442 Hijriah, para penjahit pakaian di Lamongan mengeluhkan hingga saat ini masih sepi pesanan. Kasudi (54), yang membuka jasa jahit dan permak sejak tahun 1990 bernama King’s Taylor, warga Jalan Sunan Drajat RT. 02 RW.02 Kelurahan Sidoharjo Kabupaten Lamongan, menyampaikan bahwa dampak pandemi covid 19 terhadap usaha jasa jahitnya begitu terasa.

“Tahun sebelumnya menurun drastis, namun tahun ini pesanan juga sepi, meskipun masih lumayan membaik dari ramadan sebelumnya,” kata Kasudi, Sabtu (17/04/2021).

Dua tahun lalu, sebelum pandemi covid 19, biasanya dua minggu menjelang ramadan ia selalu kebanjiran pesanan dengan penghasilan mencapai Rp5.000.0000 hingga Rp7.000.000, katanya.

“Sekarang hanya sekitar Rp2.000.000 per bulan itu pun kebanyakan sudah dari jumlah hasil pesanan permak,” sambungnya.

Kasudi juga menyebutkan upah jahit pakaian di tempatnya bervariasi di antaranya seperti pakaian untuk orang dewasa upahnya kisaran Rp150.000, baju safari Rp200.000, jas Rp500.000 sampai Rp600.000 itu pun upahnya masing-masing kadang berbeda, karena tergantung dari bahan dan kerumitan penggarapannya.

Sedangkan untuk upah permak dari Rp10.000 hingga Rp30.000, tergantung bahannya.

Ia mengakui bahwa di bulan Ramadan tahun kemarin, semenjak awal bulan Ramadan sampai menjelang Lebaran hanya menerima pesanan permak dan hanya beberapa pesanan jahitan yang masuk ke tempatnya.

Jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi, dua tahun sekarang menurun drastis, bahkan ia harus memberhentikan lima orang karyawannya, karena minimnya pesanan yang akan dikerjakan. Tetapi di ramadan tahun 1442 Hijriyah ini lumayan membaik, ia mampu mempekerjakan dua orang karyawan.

Ia menegaskan lagi, bahwa di masa pandemi yang belum reda ini, mungkin saja perekonomian warga belum pulih. Akibatnya kebutuhan membeli bahan pakaian pun tak masuk proiritas lagi.

Selain alasan tersebut, tambah dia, mungkin karena warga ingin mengurangi aktivitas di luar rumah, jaga diri dan patuh protokol kesehatan sehingga kebutuhan pakaian pun tak dianggap perlu. Sekarang kebanyakan lebih banyak yang merombak pakaian jadi. Seperti mengecilkan ukuran hingga memotong bagian bawah. Jadi bisa pula kecenderungan masyarakat membeli baju jadi lebih banyak ketimbang menjahit bahan kain, karena jual beli online juga sekarang makin marak.

“Alhamdulillah, saya selalu bersyukur, di masa sulit seperti ini, saya terbantu masih mendapatkan garapan kain seragam dari Instansi Rumah di Lamongan dan beberapa seragam Dinas dari beberapa pejabat,” jelasnya

Sebagai seorang penjahit yang memulai usahanya sejak tahun 1990, menurutnya, mengedepankan kualitas jahitan adalah salah satu cara agar pelanggan menjadi nyaman, puas terhadap jasanya dan tetap berlangganan dengannya. [ath/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar