Ekbis

Jaga Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19, PG Tanam Perdana di Sentra Jagung

Gresik (beritajatim.com) – Dampak pandemi Covid-19 yang belum berakhir hingga sekarang. Kondisi ini sangat berpengaruh pada semua sektor termasuk ketahanan pangan.

Untuk menjaga ketahanan pangan agar tetap survive meski ditengah pandemi. Produsen pupuk yang berhome based di Jawa Timur, Petrokimia Gresik (PG) melakukan tanam perdana di sentra jagung di daerah Pringgabaya Utara Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Direktur Operasi dan Produksi PG, Digna Jatiningsih menuturkan, untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah pandemi Covid-19. Perusahaannya terus meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.

“Dalam program ini, kami mendapat tugas mengawal pertanian di lahan seluas 16.000 hektar, atau 32 persen dari total target Pupuk Indonesia dengan luas lahan 50.000 hektar,” tuturnya, Selasa (19/01/2021).

Lebih lanjut ia mengatakan, dipilihnya Lombok Timur NTB karena daerah tersebut merupakan sentra jagung terbesar sekaligus sebagai pilot project yang nantinya akan diduplikasi di daerah lainnya.

Berdasarkan riset pertanian, petani selama ini masih dihadapkan banyak kendala. Misalnya, rendahnya produktivitas pertanian, minimnya akses ke lembaga keuangan, harga jual hasil panen cenderung turun, dan belum terlindunginya petani dari risiko gagal panen.

“Agar hasil pertanian tetap berproduktivitas tinggi. Kami akan melakukan pendampingan intensif bagi petani dalam menjalankan usaha pertanian dengan memberikan jaminan sarana produksi dan pemasaran hasil pertanian,” ungkap Digna.

Pendampingan ini dilakukan bersama Aliansi Kemitraan Pertanian Berkelanjutan, yaitu PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai penyedia asuransi pertanian, PT Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai penyedia permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR), PT Bisi Internasional sebagai penyedia benih jagung, serta PT Datu Nusra Agribisnis (DNA) sebagai off taker hasil pertanian di Lombok Timur.

“Tugas kami disini menyediakan pupuk dan pestisida, melalui anak perusahaan PG,” kata Digna.

Sementara itu, menurut Kementerian Pertanian, kebutuhan pupuk petani berdasarkan usulan Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK) mencapai 23 juta ton. Sedangkan, pada tahun 2021 pemerintah hanya mengalokasikan pupuk bersubsidi sebesar 9 juta ton plus 1,5 juta liter pupuk organik cair. [dny/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar