Ekbis

IRT Asal Magetan Ekspor Kebaya Sampai Negeri Sakura

Yoen Ayomi saat menata kebaya hasil rancangannya di kediamannya KPR Magetan Indah, Desa Baron, Kecamatan/Kabupaten Magetan. (Foto: Fatihah Ibnu Fiqri)

Magetan (beritajatim.com) – Kelip manik manik bak permata tersusun indah di kain tile berbentuk baju atasan wanita. Disamping manik-manik, rangkaian motif bunga jadi pelengkap yang tak kalah apik. Tak hanya kain tile, ada juga kain bruklat yang melengkapi kebaya itu.

Selaras dengan warna kain tile dan bruklatnya, ekor kebaya memanjang sekitar dua meter melengkapi anggunnya kebaya ekor tersebut. Hitam legam dengan tatanan swarovski dan juga bordiran bunga warna merah terang dan emas.

Adalah Yoen Ayomi (40) yang lihai mulai menggambar pola hingga sentuhan akhir dari kebaya yang dia pajang di ruang tamu kediamannya di KPR Magetan Indah, Purwosari, Magetan. Kebaya senilai jutaan rupiah itu sempat dipamerkan dalam wedding exhibition di salah satu hotel bintang empat Kota Madiun beberapa waktu lalu. “Dan bukan ini saja, ada kebaya lain yang juga ikut dipamerkan,” terang ibu dua anak itu.

Ayomi tidak pernah mengenyam pelajaran tata busana. Bahkan, dia juga tak pernah kursus menjahit ataupun mendesain baju. Semua dia pelajari secara otodidak sejak tahun 2010. “Kini saya sudah memiliki total sepuluh karyawan yang membantunya membuat pesanan kebaya, gaun, dan dress. Karyawan yang saya kursuskan menjahit,” ungkapnya.

Awalnya, dia yang memiliki beberapa kebaya sedih ketika baju kesayangannya mulai rusak atau sudah terlihat ketinggalan zaman. Dia pun mengoprek beberapa baju dan kemudian dikombinasikan. Hasilnya lumayan bagus. Meski dia tak membongkar baju sendirian dan dia meminta bantuan tukang jahit langganannya. “Dari situ teman teman tahu, kalau hasilnya bagus, mereka pun pengen bajunya dioprek juga,” katanya.

Namun, kenyataan mulai tak sejalan. Penjahit di mana-mana memiliki kesibukan. Dia yang tak bisa menjahit mulai khawatir dengan pesanan dari rekan-rekannya. Dia takut kalau malah tak bisa menyelesaikannya karena bagaimanapun finishing dia yang kerjakan. “Akhirnya saya memutuskan untuk beli mesin jahit sendiri, masih yang manual, belum yang memakai dinamo,” katanya.

Setelah lumayan lancar, pesanan demi pesanan mulai masuk. Dia bahkan takut saat sang suami menyarankan untuk memasang plang jasa jahit dan desain kebaya. Dia sempat pesimis kalau malah banyak pesanan tapi tidak punya karyawan yang membantu. Namun, dia pun mulai dari tetangga. “Saya ajak tetangga yang butuh pekerjaan untuk ikut menggarap pesanan,” katanya.

Kekahwatirannya tidak terjadi, dan bahkan dengan pesanan sebanyak apapun dia tatag. Meski waktu tunggu jadi mencapai tiga bulan. Karyawan makin bertambah sampai yang terakhir ada 10 orang. Dua diantaranya menggarap dari rumah karena mengurus anak yang masih balita. Sisanya bekerja di workshopnya yang berada di samping rumah.

“Saya sempat kepikiran untuk membuat playground, agar anak anak karyawan saya bisa main, ibunya pun juga bisa tenag saat kerja,” katanya.

Kebaya hasil bikinannya tak hanya banyak dipesan warga asli Magetan. Sejumlah penyanyi asal Jakarta dan Surabaya juga kerap pesan. Bahkan, ada juga warga negara Jepang yang hendak menikah di Indonesia juga sempat pesan kebaya. Peran media sosial cukup berpengaruh pada bisnisnya.

“Kami pakai medsos untuk promosi, dan banyak yang pesan, tapi waiting listnya antri, ada yang tidak jadi pesan,” katanya.

Pandemi pun cukup dia rasakan dampaknya. Beruntung, dia tak sampai merumahkan karyawan. Waktu lockdown dia gunakan untuk menyelesaikan pesanan. Saat itu pesenan mulai menipis sejak Maret. Dan mulai agak ramai saat Juli. Sehingga, kini waiting listnya tak lagi menumpuk.

“Pesanan bisa jadi tepat waktu, meski kebanyakan pesanan adalah kebaya simple yang harnya cukup terjangkau,” katanya.

Pun, dia tak mematok harga minimal untuk kebaya yang dia buat. Dia menyesuaikan denga kemampuan konsumennya. Namun, bagaimanapun harga tetap berpengaruh pada kualitas. Tapi dia tetap memaksimalkan agar setidaknya kebaya nyaman dipakai dan dengan manik manik yang murah kebaya sudah terllihat elegan.

“Yang penting perhatikan cara mencucinya, jangan sampai dicuci menggunakan mesin cuci,” katanya. [fiq/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar