Ekbis

Inovasi di Tengah Wabah, dari Sabun Cair hingga Minuman Rempah

Anggota Karang Taruna Tunas Muda Desa Kwaron sedang mengikuti pelatihan pembuatan sabun cair di balai desa setempat

Jombang (beritajatim.com) – Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Jombang berada di kawasan wisata religi makam Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Desa ini berdekatan dengan pesantren Tebuireng. Dalam situasi pandemi Covid-19, warga desa tersebut tidak mau menyerah begitu saja. Mereka melakukan berbagai inovasi untuk mendongkrak ekonomi.

Semisal, kalangan anak muda yang mulai memproduksi sabun cair. Kemudian ada juga warga yang memproduksi minuman rempah. Perlahan tapi pasti, optimisme warga bangkit dalam situasi yang sulit.

Diproduksinya sabun cair bukan tanpa alasan, mereka melihat ada ceruk bisnis yang cukup besar. Hal seiring dengan imbauan pemerintah tentang 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19.

Siang itu, anak-anak muda Desa Kwaron berkumpul di balai desa setempat. Mereka duduk melingkar di atas karpet. Para anggota Karang Taruna (Kartar) itu menyimak materi yang disampaikan Ady Subianto (37), warga setempat. Ady sedang melakukan presentasi sekaligus praktik pembuatan sabun cair.

Tentu saja, sejumlah bahan baku juga disiapkan di forum tersebut. Ady kemudian meracik bahan-bahan yang sudah disiapkan. Bahan yang satu dicampur dengan bahan lainnya. Hingga kemudian tercipatalah sabun cair. Anggota Kartar (Karang Taruna) Desa Kwaron terlihat sumringah, karena mereka sudah bisa membuat sabun cair berbiaya murah.

Gayung pun bersambut. Usai mendapatkan pelatihan sabun cair serba guna, Karang Taruna Tunas Muda Desa Kwaron mulai merilis produksinya. Bahkan, produk sabun cair dengan label ‘Eightnov Clean’ yang dikerjakan oleh anak muda desa ini mulai dipasarkan.

“Walaupun produk rumahan (home industri), namun kualitasnya tidak kalah dengan produksi pabrikan. Sabun cair ini sangat cocok untuk mencuci tangan. Kita sudah melakukan produksi, tapi jumlahnya tidak banyak,” kata Ketua Karang Taruna ‘Tunas Muda’ Desa Kwaron, Setyo Hadi Wibowo, Senin (16/1/2020).

Setyo Hadi mengungkapkan, nama Eightnov diambil dari tanggal mulainya pelatihan hingga menjadi produk jadi, yakni 8 Nopember 2020. Tahap awal, Tunas Muda memproduksi enam liter sabun cair. Dari hasil penjualan ini langsung digunakan untuk memproduksi lagi dengan kapasitas 8 liter.

Sabun cair produksi Karang Taruna Tunas Muda Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Jombang

Sebelum dijual ke pasaran, sabun cair terlebih dulu diujicobakan ke sejumlah warga. Hasilnya, cukup memuaskan. Rencananya, sabun tersebut terus dikembangkan sebagai bentuk karya milik organisasi Karang Taruna yang berada di Kawasan Wisata Religi Makam Gus Dur.

Setyo Hadi menceritakan, awalnya pihak Karang Taruna melibatkan 10 anggota. Seluruh proses pelatihan hingga produksi langsung dibimbing oleh Ady Subianto, warga Kwaron yang juga mengembangkan Gubuk Hidroponik di depan rumahnya.

“Kita juga minta dukungan semua warga Kwaron untuk bisa membantu mengembangkan produk ini. Karena sabun cair tersebut semuanya dikerjakan anak muda asli Kwaron yang tergabung di Karang Taruna,” jelas Setyo Hadi yang juga pengurus Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kampoeng Kwaron.

Oleh sebab itu, lanjutnya, jika ada warga Kwaron yang ingin mendapatkan ‘Eightnov Clean’ disarankan menghubungi tim Karang Taruna Tunas Muda. “Saat ini kami masih konsentrasi melayani pesanan terlebih dulu. Karena kemampuan keuangan Karang Taruna masih terbatas. Per botol sabun cair ukuran 250 ml, kami banderol Rp 5 ribu,” sambungnya.

Hadi juga berharap seluruh warga Kwaron mendukung karya anak muda di desanya. Caranya dengan membantu membeli produk tersebut dan memasarkannya. “Produksi awal ini minimal untuk kebutuhan warga sendiri. Dengan begitu, kita bisa melakukan produksi selanjutnya,” ujar Setyo Hadi.

Ady Subianto, Pengurus KIM Kampoeng Kwaron bidang usaha mengatakan, selain pembuatan sabun cair, pihaknya sejak awal berkomitmen untuk mengembangkan potensi desanya. Sejumlah pelatihan rencananya terus dilakukan guna menggali segala potensi warga. Termasuk potensi anak anak muda yang tergabung dalam Karang Taruna.

“Kami mencoba mencarikan kesibukan anak-anak dengan memberikan pelatihan yang berguna di musim pandemi ini. Sehingga anak-anak muda lebih kreatif dan menciptakan sumber ekonomi baru,” jelas pria yang juga aktif di Asosiasi Pengusaha Kecil Menengah (APKM) Kabupaten Jombang ini.

Mendulang Rupiah dari Minuman Rempah

Warga Desa Kwaron, Putri Khoiriyah sedang memperoduksi jahe instan di rumahnya

Selain anak-anak muda, inovasi serupa juga dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga asal Desa Kwaron, Putri Khoiriyah (47). Istri dari Suyitno (49) ini menggenjot produksi minuman rempah, yakni jahe instan. Walhasil, selama pandemi minuman produksi rumahan ini laris manis. Ada peningkatan 50 persen dibanding sebelumnya.

Di rumahnya yang sederhana, Khoiriyah terlihat sibut di ruang tengah. Tangannya terampil memilih jahe. Serpihan tanah yang menempel di empon-empon tersebut ia rontokkan. Kemudian diletakkan di tempat khusus.

Sejurus kemudian, Khoiriyah menyiapkan mesin penghalus bumbu. Jahe yang sudah bersih dimasukkan ke dalam mesin tersebut. Sekali tombol, mesin penghalus tersebut langsung menderu. Berputar-putar cukup kencang. Dalam sekejab, potongan-potongan jahe itu berubah menjadi halus.

Tahap selanjutnya, jahe yang sudah halus diperas diambil airnya. Nah, air perasan tersebut dimasak di atas kompor dengan api kecil hingga mengkristal. Setelah 45 menit, Khoiriyah memasukkan gula sebagai pemanis ke air jahe yang sudah mengental.

Setelah kekentalannya dinilai cukup. Jahe tersebut diangkat. Nah, serbuk jahe itulah yang kemudian dimasukkan ke dalam plastik sachet berbagai ukuran. Walhasil, permintaan minuman instan tersebut mengalami peningkatan. Selain dari Jombang sendiri, permintaan juga datang dari luar kota.

“Sebenarnya saya memulai usaha ini sudah dua tahun. Namun perkembangannya lambat. Baru tiga bulan terakhir ini mengalami peningkatan cukup pesat. Kalau dibanding sebelum pandemi, ada peningkatan 50 persen. Karena ada juga perminta dari luar kota, bahkan luar pulau,” ujar ibu dua anak ini sembari menyunggingkan senyum. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar