Ekbis

Inilah Strategi OJK Naikkan Ekonomi Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah pandemi Covid-19 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) regional 4 Jatim punya pekerjaan rumah yang cukup berat, yakni mendorong pemulihan perekonomian Jatim.

Kepala OJK Regional 4 Jatim, Bambang Mukti Riyadi mengatakan, pihaknya (OJK) dan Bank Indonesia (BI) terus melakukan upaya untuk memulihkan perekonomian nasional termasuk wilayah Jatim sendiri lewat kebijakannya. Hal ini, kata Bambang Mukti Riyadi, bagian untuk mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Sementara sinergi pemerintah dengan OJK memberi kebijakan yakni, memberikan ruang gerak bagi sektor riil restrukturisasi kredit dan penilaian kualitas dengan satu pilar. Stabilitas pasar keuangan terjaga pelarangan short selling, buy back saham tanpa RUPS,dan perubahan trading halt.

SJK mampu bertahan melewati pandemi penundaan penerapan standar Basel III, relaksasi batas pelaporan dan kemudahan lainnya serta digitalisasi UMKM dan SJK terus tumbuh penyaluran KUR secara digital, digitalisasi BWM, laku pandai, digitalisasi BPR dengan white labelling bersama Himbara.

“Kami terus bekerja keras dan menjaga integritas, sehingga OJK menjadi lembaga yang kredibel, serta bermanfaat bagi pelaku industri jasa keuangan dan masyarakat secara keseluruhan nantinya,” terang Bambang Mukti Riyadi saat acara Media Gathering OJK Regional 4 Jatim, di Surabaya, Senin (23/11/2020)

Lebih lanjut dia mengatakan, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Perbankan bekerja sama melakukan Business matching dan survei lapangan pada sektor riil terdampak pandemi Covid-19 sekaligus mengidentifikasi kegiatan usaha yang dapat menjadi motor pemulihan ekonomi Jatim.

Sementara itu Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 4 dan Perizinan, Moh Eka Gonda Sukmana menjelaskan, penyaluran kredit perbankan di Jatim per September 2020 yang produktif terbagi sebasar 72,4% Sementara pertumbuhan Yoy sebasar -9,3% dan NPL sebasar 5,3%. Untuk Non Produktif sebasar 27,6%. Pertumbuhan Yoy sebasar 8,8% dan rasio NPL sebasar 11,2%.

Untuk katagori pengguna Moh Eka Gonda Sukmana merinci, disektor UMKM dibagikan sebesar 66,3. Sementara pertumbuhan YoY nihil dan rasio NPL sebesar 6,6 persen. Untuk Non UMKM sendiri sebesar 33,7. Pertumbuhan Yoy sebesar 4,9 dan rasio NPL sebesar 11 persen.

Sementara itu sektor pengguna penyaluran kredit perbankan yakni, rumah dibagikan sebesar 26,1 %. Sementara pertumbuhannya sebesar -0,7% dan rasionya sebesar 2,2 %. Untuk sektor industri dibagikan sebesar 25,1%.

Melihat keadaan ini OJK akan fokus pada 5 kebijakan. Yakni perpanjangan relaksasi kredit untuk membantu UMKM menjaga keberlangsungan usahanya di tengah pandemi. Akselerasi roda perekonomian daerah memperluas akses keuangan daerah guna menopang perekonomian nasional dan mempercepat serapan belanja pemerintah.

“Kami juga akan lakukan optimalisasi peran industri keuangan terintegrasi dukungan pembiayaan usaha padat karya yang memiliki multiplier effect tinggi. Percepatan ekosistem digital hingga penguatan pengawasan terintegrasi,” tandasnya. [rea/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar